Dibangun Bung Karno, Diresmikan Bung Hatta

Senin, 3 Juni 2019 - 13:35 WIB
IMAN SETIAWAN P/FAJAR BERSEJARAH. Masjid Agung Ummul Quraa di Kecamatan Tempe, Wajo. Masjid ini pernah menjadi terbesar di Indonesia bagian timur.

Posisinya berada di dekat lapangan. Bangunannya yang megah, mengundang decak kagum.

Iman Setiawan Panguriseng, Sengkang

Ikon tak mesti tempat wisata rekreasi di suatu daerah. Khususnya di Kabupaten Wajo, Masjid Ummul Quraa adalah ikonnya. Pernah menjadi terbesar di wilayah Indonesia bagian Timur.

Masjid ini terletak di Kecamatan Tempe, Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo. Persis berhadapan dengan Lapangan Merdeka Sengkang, hanya ruas jalan nasional mengantarainya. Yakni, Jalan Masjid Raya Sengkang.

Koordinator Pembangunan Masjid Agung Ummul Quraa, Karyaman, bercerita, masjid ini mulai dibangun pada 1955 silam, pada masa kepemimpinan Presiden Ke-1 Indonesia Soekarno. Pembangunannya rampung secara total pada 1965.

“Proses pembangunannya membutuhkan waktu 10 tahun. Tapi sudah difungsikan 1959. Kenapa lama selesai, karena terbesar waktu itu se-Indonesia timur,” ujarnya kepada FAJAR sembari menunggu waktu salat Asar, Selasa, 28 Mei lalu.

Tak heran, masjid ini dikenal banyak tokoh nasional. Lantaran peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Bung Karno. Bapak bangsa yang dijuluki sebagai proklamator itu. “Kalau peresmiannya dilakukan wakilnya, Mohammad Hatta, ketika masjid rampung sesuai desain awal pada tahun 1965,” imbuhnya.

Tak hanya diresmikan, desainnya juga memang pesanan langsung dari Bung Karno. Serta dirancang oleh seorang arsitek beragama Kristen Protestan, Frederich Silaban. “yang rancang Masjid Istiqlal di Jakarta itu juga arsiteknya Masjid Agung Ummul Quraa,” tuturnya bersemangat.

Pembangunan masjid yang memiliki luas lahan sekitar 100 X 59 meter dan bangunan 84 X 40 meter ini, dalam sejarahnya diakui terisi kepentingan politik di dalamnya. Ketika Abdul Qahhar Mudzakkar melakukan pemberontakan di Sulsel untuk memisahkan diri dan menjadikan Indonesia timur sebagai negara Islam.

“Itulah sejarahnya masjid ini dibangun langsung Soekarno. Dan diberi nama Masjid Raya Sengkang dan besar di Indonesia timur, supaya meminimalisir isu paham komunis terhadap dirinya,” jelas Karyaman.

Seiring berjalannya waktu, nama Masjid Raya Sengkang berganti menjadi Masjid Agung Ummul Quraa. Terlebih saat terbitnya Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 394 tahun 2004 yang mengatur tentang tipologi masjid.
“Karena berkedudukan di kabupaten makanya diganti masjid agung. Sementara masjid raya adalah masjid yang ditetapkan pemerintah tingkat provinsi dan masjid negara, yaitu masjid yang berkedudukan di ibu kota negara,” jelasnya lagi.

Masjid yang dominan berwarna putih ini telah berusia 64 tahun sejak mulai dibangun. Selama itu, Masjid Agung Ummul Quraa telah mengalami renovasi sedikitnya empat kali di masa kepemimpinan bupati yang berbeda.
“Tapi tidak ada yang mengubah bentuk keaslian strukturnya, hanya sebatas memoles dinding, lantai, dan tambahan untuk mempercantik masjid,” akunya.

Anggaran renovasinya merupakan hibah dari Pemkab Wajo. Total yang terbanyak digunakan pada masa mantan Bupati Wajo dua periode Andi Burhanuddin Unru.

“Selama dua periode itu, kemungkinan mencapai Rp10 miliar hibah yang masuk di masjid ini,” akuinya.
Tentu tak heran, saat masuk ke masjid yang memiliki 50 lebih tiang penyangga ini, orang akan terpesona dengan kemegahan Masjid Agung Ummul Quraa.

Warna yang dominan putih bersih, dipadukan warna emas di setiap sudut masjid. Serta warna cokelat hitam yang sedikit mencolok pada ukiran kaligrafi. Kemegahan masjid akan sangat terasa saat menghadap ke dinding arah kiblat. Tampak besar 99 nama-nama Allah atau Asmaul Husna dengan warna kuning keemasan menjadi daya tarik untuk berfoto.

“Karena kemegahan ini, masjid kebanggaan ini menjadi ikon di Wajo. Khususnya di Sengkang,” tandasnya.
Percakapan kami harus terhenti. Azan salat asar mulai berkumandang. Banyak warga dan juga pegawai lingkup Pemkab Wajo berdatangan untuk menunaikan kewajibannya disini.

Selain itu, daya tarik masjid membuat pengendara yang melintas berhenti. Ada yang sekedar mengambil gambar dengan ber-swafoto, ada menyempatkan waktu melaksanakan salat asar empat rakaat. Salah satunya, warga Kecamatan Kahu Kabupaten Bone, Rahmawati mengaku, datang ke Wajo untuk berbelanja pakaian persiapan lebaran Idulfitri. Dia menyempatkan waktu terlebih dahulu salat asar.

“Kita istirahat dahulu disini, sekalian foto-foto. Baru ke Pasar Sentral Sengkang,” ucapnya.
Ia mengaku setiap kali bertandang ke Bumi Lamaddukelleng –julukan Wajo– , pastinya tak akan melewatkan kesempatan untuk salat lima waktu di Masjid Agung Ummul Quraa. (*/rif-zuk)