Korban Perampokan, Melompat dari Mobil Tak Berpikir Hidup atau Mati

Senin, 3 Juni 2019 - 18:40 WIB
KORBAN : Keadaan korban percobaan perampokan sudah mulai membaik saat ditemui di rumahnya, di Banjar Sema, Kelurahan Bitera, Gianyar, Senin (3/6). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

FAJAR.CO.ID,GIANYAR — Tiga hari berlalu kasus percobaan perampokan dengan korban Ni Ketut Ari Muliani, 45. Kini kondisi korban sudah mulai membaik. Saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) Senin (3/6) Jero Ari sapaan akrabnya mengaku sudah mulai tidak trauma.

Diakuinya juga semua pelaku merupakan buruh lepas di villa yang dihendlenya. Bahkan ia baru mengetahui di dalam mobil tempatnya meloncat itu total terdapat empat orang pelaku.

Saat melompat, Jero Ari tak berpikir hidup atau mati. Yang penting keluar dari mobil.

Saat didatangi ke kediamannya di Banjar Sema, Kelurahan Bitera, Gianyar, Korban Jero Ari baru datang dari kontrol di rumah sakit diantar oleh suaminya.

Tampak baru keluar dari mobilnya ia jalan seperti menahan sakit pada kaki kirinya yang diperban. Lantaran terdapat 10 jaritan untuk menyatukan robekan kulitnya tersebut pasca melompat dari mobil yang dikendarai pelaku Edy, pada Sabtu (1/6) lalu.

“Mereka semua (terduga pelaku) merupakan tukang harian lepas di villa yang saya hendel. Kenal baik sejak tujuh tahun, ada perbaikan apa-apa pasti pelaku Edy ini saya panggil dan ia membawa temannya juga termasuk Saiful. Saya tidak nyangka saja perbuatan mereka seperti itu,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Jero Ari juga menjelaskan baru mengetahui pelaku total sebanyak empat orang. Selain pelaku Saiful yang ada di mobil pada jok belakang ternyata ada lagi satu pelaku yang bersembunyi pada bagasi belakang. Namun dengan cara tiduran, lengkap dengan membawa alat-alat yang hendak digunakan diduga untuk menganiaya korban.

Disinggung memiliki masalah sebelumnya dengan salah satu pelaku, Jero Ari mengatakan tidak pernah sama sekali. Bahkan setiap selesai mengerjakan sesuatu di villa, saat itu juga mereka dibayar. Selain itu, diakuinya juga pelaku Edy sering meminjam uang kepada korban dan langsung diberinya tanpa pikir panjang. Mengingat pekerjaan mereka dikatakan sangat bagus.

“Masalah sama sekali tidak ada, sebelumnya mereka bekerja seperti biasa. Setiap gajian saya langsung kasi, kadang minta minjam saya juga langsung beri. Selama ini normal-normal saja, makanya saat diminta tolong menerjemahkan Bahasa Inggris itu tidak enak hati kalau menolak. Padahal waktu itu saya masih sibuk, dan saya sempatkan waktu untuk menolong dia, malah saya diginikan,” tuturnya.

Dikatakan keempat pelaku juga semestinya masih mengerjakan pekerjaan yang harus ia selesaikan di sebuah villa yang ada di Sanggingan, Ubud. Terlebih bosnya pemilik villa mengetahui juga para pelaku itu buruh harian lepas di sana.

Saat ditanya, kenapa memutuskan meloncat dari dalam mobil yang berlaju kencang, Jero Ari mengaku karena fellingnya sudah tidak baik. Mengingat ia diperlakukan seperti diancam, saat ia mengetahui dirinya dijebak dan pundaknya disetrum sebanyak dua kali langsung ia memutuskan untuk keluar dari mobil tersebut.

“Waktu itu saya kan taruh sepeda motor di sekitar Jalan Sri Wedari, depan Villa Ubud Green. Sudah gagal ketemu lokasi yang dikatakan tempat menerjemah itu, balik dan lewat 300 meter dari motor saya terparkir tidak diturunkan dan mobil malah semakin ngebut, saya minta turun dibentak disuruh diam. Merasa curiga, ditambah pundak disetrum tidak berpikir panjang saya buka pintu mobil langsung loncat. Entah hidup atau mati yang penting saya keluar dari mereka saja,” jelasnya.

Saat terjatuh, Jero Ari terguling beberapa kali dan langusung bangun mengambil tasnya. Selain itu ia juga mencari handphonenya yang ikut terpental. Sempat ada orang yang melihatnya, namun hanya lewat begitu saja. Ia mengaku kemungkinan dikira mengada-ngada sehingga satu pengendara mobil dan sepeda motor hanya melewatinya.

“Untung ada pengendara yang lainnya mau membantu saya, diajak ke tempat ramai. Waktu itu saya masih pikirannya kemana-mana, dan langsung menelpon keponakan yang kerja di Ubud. Selanjutnya dibawa ke klinik untuk diberikan perawatan dan melapor ke Polsek Ubud,” ungkapnya.

Jero Ari menambahkan saat di Mapolsek Ubud, dua pelaku sempat ia lihat namun dikatakan mereka tidak berani memalingkan wajahnya kepada Jero Ari sendiri. “Mereka berdua seperti biasa-biasa saja bercanda, tetapi tidak berani melihat muka saya,” imbuh Jero Ari. (jpcc)