Sekali Ngopi Rp2-3 Juta, Inilah Manusia Paling Royal di Makassar

Senin, 3 Juni 2019 - 23:07 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-–Anda biasa ngopi atau kongkow di warung kopi di Makassar? Tak lengkap kalau belum pernah duduk dan menyeruput kopi dengan pria satu ini. Namanya Rusdin Abdullah, sering disapa Rudal.

Kalau Anda duduk bersamanya, maka tidak usah keluar duit. Cukup melapor ke kasir tagihan masukkan ke Rudal. Selesai. Kasir pun sudah paham.

Rusdin adalah polikus senior partai Golkar, sekaligus pengusaha terkenal di Makassar. Dia senang kongkow bersama komunitas peminum kopi di Makassar. Warkop Phoenam Boulevard adalah favoritnya.

Sekali ngopi tagihan bisa membengkak Rp2-3 juta. Baginya itu biasa saja. “Bahkan setiap hari sudah begitu,” celutuk Hamzah, orang dekat Rudal.

Selama Ramadan 2019, hampir setiap malam tamu-tamu warkop seperti mendapat durian runtuh. Rudal selalu menyempatkan ngopi sekaligus membereskan semua tagihan berapa pun jumlahnya.

Bahkan bukan cuma urusan kopi, para pengamen yang beroperasi di kawasan Boulervard pun kebagian rezeki. Mereka berbondong-bondong merapat saat mobil Mercy milik sang idola itu sudah parkir.

“Barupiki petik-petik gitar untuk menyanyi sudah dapat uang merah. Saya belum menemukan sosok seperti beliau di Makassar, kecuali pak Rudal,” kata Ardi, pengamen jalanan yang beroperasi di Boulevard.

Lia, pedagang keliling baju-baju muslim juga merasakan rezki Ramadan kali ini. Lia yang menetap di Pasar Terong mencoba jualan di warkop. Tak disangka dagangannya diborong lalu dibagikan kepada pengunjung warkop.

“Tiga kali saya datang pak. Yang pertama diborong bapak itu, jualan saya ludes. Yang kedua datang, tapi beliau tidak ada. Jadi ngak ada laku. Pas malam terakhir Ramadan saya datang lagi.. Eh diborong lagi,” kata Lia sumringa sembari memegang beberapa lembar uang dollar ditangannya.

Sikap royal Rudal ini memang sudah dikenal luas di Makassar. Tak salah mantan Ketua HIPMI Sulsel itu, selalu dijadikan tempat berkeluh kesah para aktivis saat susah.

“Janganmi sebut kalau beliau. Kebaikannya sudah tidak bisa dihitung. Saya sudah rasakan saat masa-masa sulit tahun lalu,” kata Syamsinar Alam. (aci)