Kisah Kerja Keras Mohamed Salah

Selasa, 4 Juni 2019 - 06:14 WIB
Mohamed Salah semasa kecil/Arab News/Disuplai

FAJAR.CO.ID, KAIRO—Striker Liverpool kelahiran Mesir, Mohamed Salah adalah pahlawan bagi penggemar sepak bola di seluruh dunia, dan sumber kebanggaan bagi senegaranya dan orang-orang di seluruh dunia Arab. Namun profil tingginya saat ini jauh berbeda dari asalnya yang sederhana.

Ayahnya, Salah Ghali menyebut kerja keras telah membuat putranya menjadi bintang. “Mohamed tumbuh dalam keluarga sederhana dan memiliki dua saudara kandung. Kondisi keuangan keluarga membuatnya sulit untuk mendaftar di universitas yang tepat,” ungkap Salah Ghali kepada Arab News.

Ketika mulai tumbuh dewasa berlatih sepak bola, ia harus melakukan perjalanan dari tempat asalnya, Nagrig ke Kairo dengan sepuluh bus yang berbeda – lima hari seminggu selama empat tahun. Ini adalah perjalanan delapan jam dan sebagai manusia biasa, Salah kerap mengeluh.

“Dia mengeluh tentang bepergian selama empat jam dengan kereta api tetapi saya mengatakan kepadanya bahwa semua bintang di dunia telah melalui pengalaman sulit ini sebelumnya. Saya selalu mengingatkan dia tentang perjalanannya dari desanya Najrij di pusat Bassioun di provinsi Gharbia ke Kairo, tempat Klub Kontraktor Arab berada. Saya selalu memberinya nasihat dan dukungan, terutama setelah pindah dari negara Arab ke Eropa,” ujarnya.

Kehidupannya setelah menjadi bintang berbeda dalam banyak hal dari apa yang dialami Salah di kampung halamannya. Itulah sebabnya Ghali mendorong putranya untuk mengembangkan keterampilannya di lapangan dan berjuang untuk mencapai tujuannya itu.

Selain kerja keras, Ghali memuji kebaikan hati putranya. Penyerang Mesir itu senang melakukan pekerjaan amal. Dua proyek – sebuah lembaga pendidikan dan unit ambulan – telah selesai di desanya dan akan dibuka pada bulan Juni ini.

Institut Azhari, di Najrij, adalah salah satu impian Salah. Dia telah bekerja keras untuk mencapai mimpinya melayani orang-orang dari desanya karena mereka tidak memiliki akses mudah ke pendidikan.

“Yayasan Amal Mohamed Salah membantu orang-orang di desa dan desa-desa tetangga. Ketika menteri memberi tahu saya bahwa sebuah museum akan didirikan atas nama putra saya, saya merasa bahagia dan bangga, dan sangat berterima kasih kepada Tuhan,” tuturnya.

Bulan lalu Salah masuk dalam 100 orang paling berpengaruh 2019 ini di majalah Time. Dan Ghali mengaku dirinya sangat bangga. “Saya merasa sangat senang ketika melihat putra saya di televisi. Semua orang memuji penampilannya dan bertepuk tangan untuknya,” katanya.

Mohamed Salah baru-baru ini mempersembahkan gelar Liga Champions bagi Liverpool. Dalam laga final kontra Tottenham Hotspur, Salah bahkan mencetak satu dari dua gol kemenangan The Reds. Salah menyebut suksesnya itu sebagai buah dari kerja kerasnya.

“Saya telah berkorban banyak untuk karier saya, untuk datang dari desa untuk pergi ke Kairo, dan menjadi orang Mesir pada tingkat ini tidak dapat dipercaya bagi saya,” ujar Salah di situs resmi UEFA. (Arab News/UEFA/amr)