Puji Kehebatan Ibu Ani Yudhoyono

Selasa, 4 Juni 2019 - 18:17 WIB
Wapres RI HM Jusuf Kalla saat memberikan keterangan pers, di Istana Wapres, Rabu 22 mei 2019.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA —Dibalik kesuksesan seorang suami ada wanita hebat di belakangnya. Dialah Ani Yudhoyono, Ibu Negara Presiden ke enam pada 2004 hingga 2014.

Demikian diungkapkan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla kepada awak media di rumah dinas Wapres Jl. Diponegoro Jakarta, Selasa (4/6/2019).

“Dan saya tahu betul Ibu Ani itu ibu yang hebat. Saya juga sering katakan dibelakang laki-laki hebat ada perempuan yang lebih hebat lagi, nah itulah Ibu Ani,” pujinya.

Wapres yang didampingi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) serta Kepala Sekretariat Wakil Presiden (Kasetwapres) juga mengungkapkan bahwa ia telah mengutus Istrinya, Mufidah Jusuf Kalla untuk takziah atas berpulangnya ke Rahmatullah Ibu Negara Ke enam karena dirinya harus menjalani perawatan medis selama kurang lebih 10 hari di rumah sakit. Namun kini ia telah sehat dan siap untuk menjalani aktifitas seperti biasanya.

“Ya kembali kerumah artinya sudah sehat, sudah tinggal pemulihan. Pemulihan mungkin beberapa hari ini memang jadinya supaya lebih enak untuk orang dan teman teman. Dan saya tidak Open House tapi bersama-sama dengan Presiden Insya Allah besok saya karena Presiden minta saya, kita sama-sama saja di Istana,” tuturnya.

Namun demikian, Wapres menyatakan akan segera menemui Presiden ke enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), apabila dirinya sudah selesai menjalani masa pemulihan.

“Insya Allah kalau saya sudah pulih betul pasti. Bagaimanapun Ibu Ani menjadi Ibu Negara waktu saya Bersama Pak SBY dengan saya wakilnya, jadi kita mempunyai hubungan yang sangat erat,” terangnya.

Dalam keterangan persnya, Wapres juga menuturkan bahwa terkait momen lebaran, ini menjadi momen untuk kembali merajut persatuan. Menurut Wapres tanpa diucapkan pun itu selalu begitu, karena selalu yang dicantumkan baik lisan dan tertulis adalah “Maaf lahir & batin”.

“Jadi saling memaafkan, kalau saling memaafkan berarti kesalahan kita pendam dan kembali kita bersatu dan silaturahim, halal bihalal, itu bisa terjadi puluhan ribu kali di negeri ini, itu tanpa dihimbau, tanpa diminta, akan menjadi arena persatuan sendiri,” pungkasnya. (*)

(Husain Abdullah- Jubir Wapres RI)