Menengok Kampung Halaman

Sabtu, 8 Juni 2019 - 20:32 WIB
Dr Abustan (INT)

Oleh: Dr Abustan
Dosen Universitas Islam Jakarta (UID)

SETELAH menuntaskan ibadah puasa selama sebulan, di penghujung Ramadan saya menuliskan cuitan di FB saya: “ramadhan, telah meninggalkan kita semoga segala nilai ibadah terinternalisasi dalam kehidupan se hari2. kini, sayup2 kemenangan terdengar dikumandangkan merayap pelan di relung hati di hari fitri inikita kembali ke fitrah kita semua.Mohon maaf lahir bathin”.

Momen penting Ramadan ini, terasa lebih spesial dan “khusyuk” karena dilaksanakan pada saat mudik, saya istilahkan “menengok kampung halaman”. Kegiatan aktivitas mudik, bukan sekadar dan atau sebatas perjalanan membayar “hutang” kerinduan dengan sanak keluarga (handai taulan). Namun, lebih dari itu kembali merawat pikiran-pikiran segar masa lalu yang tertanam ketika masih kecil bersama dengan sahabat-sahabat.

Bahkan, momentum Idulfitri kembali merajut persaudaraan yang masih terasa sangat jernih, orsinil, dan tanpa pamrih. Tidak hanya itu, kita seolah-olah diantar kembali mengingat dan mengenang cerita-cerita masa lalu yang merupakan perjalanan spiritual yang sangat membahagiakan. Tentunya, hal ini dapat menjadi inspirasi dan atau motivasi dalam menyonsong tantangan kehidupan di masa yang akan datang .

Apalagi, dalam era disrupsi teknologi informasi yang egaliter, pertarungan gagasan dan narasi tidak terbantahkan/terelakkan. Kesemuanya itu, telah menyempurnakan kehidupan di era milineal ini. Di sisi lain, sekaligus pula telah menjadi gambaran kegelisahan kehidupan kontemporer yang merupakan kondisi kekinian dan keniscayaan .

Karena itulah, menengok kampung halaman adalah kesempatan baik untuj menstabilkan kembali pikiran-pikiran dari berbagai syakwasangka politik yang penuh hiruk-pikuk dan gesekan atmosfir politik perkotaan dengan tensi yang terus memanas akhir-akhir ini .

Dengan demikian, inilah momentum yang sangat baik bagi kita semua untuk merefleksi dan introspeksi terhadap berbagai hal. Sebab, dengan masih memendam sikap permusuhan dan rasa kebencian akibat perbedaan politik di Pileg dan Pilpres hanya akan mengurangi kekhidmatan dalam beribadah.

Akhirnya, menilik pada sejarah mudik maka selalu saja menyisakan nilai ketulusan dan kebersamaan (colektivitas comunal). Menggaris bawahi ketulusan sebagai jati diri masyarakat pedesaan, sesungguhnya juga sebagai visi moralitas keagamaan dan merupakan aspek yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Kalau mau jujur, inti beragama senyatanya ada pada ketulusan. Karena itu, orang-orang desa telah mewujudkannya dalam nilai-nilai persahabatan tanpa pamrih. (*)

Watampone, 7 Juni 2019