Surplus Neraca Perdagangan Pertanian, Kuncinya Negosiasi


FAJAR.CO.ID, JAKARTA—Selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, neraca perdagangan produk pertanian terus mengalami peningkatan positif. Capaian ini tak lepas dari upaya Kementerian Pertanian (Kementan) yang terus membangun kerjasama dan negosiasi perdagangan dengan negara lain. Pada saat bersamaan, upaya meningkatkan produksi dalam negeri berjalan bagus.”Artinya, kita terus berupaya mengekspor produk pertanian baik melalui peningkatan produksi dalam negeri maupun kerjasama dan negosiasi perdagangan dengan negara lain,” kata Kuntoro Boga, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementrian Pertanian.Kuntoro menjelaskan, peluang kerjasama itu dibuka melalui pertemuan bilateral maupun multilateral. Contohnnya  pertemuan multilateral tingkat menteri G20 ataupun pertemuan bilateral Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Pertanian Brasil, Tereza Cristina, beberapa waktu yang lalu.Pada pertemuan kedua menteri, Amran mendorong Brasil membeli berbagai produk pertanian dari Indonesia. “Pemanfaatan peluang ekspor ini harus terus dikejar supaya neraca perdagangan kita tidak defisit. Sebaliknya, kita harus mampu membuat neraca perdagangan kita meningkat,” katanya.Sejak awal tahun 2019 hingga pertengahan tahun ini, Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan dalam bentuk volume dan nilai produk pertanian. Itu meneruskan tren serupa pada periode 5 tahun terakhir dimana volume ekspor meningkat 9 sampai 10 juta ton.Volume ekspor pada tahun 2013 hanya mencapai 33,5 juta ton. Sementara di 2018, jumlahnya naik menjadi 42,5 juta ton. “Dengan kata lain, selama periode tersebut kita mampu tumbuh sebesar 26,9 persen atau rata-rata 5,4 persen per tahun,” katanya.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...