Cerita Mudik Mereka yang Mengabdi di Pelosok, Naik Ojek dengan Ban Dililit Rantai

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Mudik selalu menyenangkan. Tetapi mereka yang mengabdi di rantau, apalagi di daerah pelosok, pulang berlebaran, butuh upaya ekstra.

Seorang warga Sulsel yang mengabdi pada dae rah terpencil di Sulawesi Tengah (Sulteng) adalah satu dari mereka yang harus berjuang menembus akses sulit pelosok. Perempuan tangguh itu adalah Nurhidayati Kahar. Bahkan sebelum di Palu, dia bertahun-tahun ditanah Papua.

Alumnus Univeristas Negeri Makassar (UNM) yang mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) ini memang punya niat besar menjadi pendidik. Sekalipun, sulit, tetapi bagi dia itu tak masalah.

Dia memilih menjadi lilin di tengah gelap ilmu pengetahuan anak pelosok. Praktis, dia harus jauh dari keluarga, apalagi dari hiruk pikuk metropolitan.

Namun, itu saat musim Idulfitri tiba, dia tak kuasa untuk mengurungkan niat pulang ke kampung halamannya di Sinjai. Dia tak ingin melepaskan waktu yang hanya datang sekali untuk bersua kedua orang tua dan sanak saudara tercintanya.

Dia ingin larut dalam suasana kemenangan dan menyaksikan semarak malam takbiran. Yah, di kampungnya. Sambil bebas menatap kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkannya selama ini. Sekalipun, untuk pulang mudik, tidaklah mudah. Tempatnya yang terpencil di pelosok Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng, membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih. Ekstra sabar dengan akses yang hanya melewati jejak-jejak belantara.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi


Comment

Loading...