Cerita Mudik Mereka yang Mengabdi di Pelosok, Naik Ojek dengan Ban Dililit Rantai

Minggu, 9 Juni 2019 - 16:17 WIB
Guru SDN Tertinggal Pinesangkang, Desa Pebounang, Kecamatan Palasa, Parigi Moutong, Sulteng (tengah), Nurhidayati Kahar bersama muridnya.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Mudik selalu menyenangkan. Tetapi mereka yang mengabdi di rantau, apalagi di daerah pelosok, pulang berlebaran, butuh upaya ekstra.

Seorang warga Sulsel yang mengabdi pada dae rah terpencil di Sulawesi Tengah (Sulteng) adalah satu dari mereka yang harus berjuang menembus akses sulit pelosok. Perempuan tangguh itu adalah Nurhidayati Kahar. Bahkan sebelum di Palu, dia bertahun-tahun ditanah Papua.

Alumnus Univeristas Negeri Makassar (UNM) yang mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) ini memang punya niat besar menjadi pendidik. Sekalipun, sulit, tetapi bagi dia itu tak masalah.

Dia memilih menjadi lilin di tengah gelap ilmu pengetahuan anak pelosok. Praktis, dia harus jauh dari keluarga, apalagi dari hiruk pikuk metropolitan.

Namun, itu saat musim Idulfitri tiba, dia tak kuasa untuk mengurungkan niat pulang ke kampung halamannya di Sinjai. Dia tak ingin melepaskan waktu yang hanya datang sekali untuk bersua kedua orang tua dan sanak saudara tercintanya.

Dia ingin larut dalam suasana kemenangan dan menyaksikan semarak malam takbiran. Yah, di kampungnya. Sambil bebas menatap kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkannya selama ini. Sekalipun, untuk pulang mudik, tidaklah mudah. Tempatnya yang terpencil di pelosok Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng, membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih. Ekstra sabar dengan akses yang hanya melewati jejak-jejak belantara.

Tika begitu dia disapa mengab- di di SD Negeri Terpencil Pinesangkang, Desa Pebounang, Kecamatan Palasa, Parigi Moutong. Di tempat ini, tak ada listrik apalagi jaringan telekomunikasi. Artinya, untuk bermedsos ria, harus dikubur jauh-jauh. Kecuali mau turun gunung.

Tika bermukim di Desa Bobalo Kecamatan Palasa, Parigi Moutong. Agar bisa masuk kota, butuh waktu 4-6 jam perjalanan. Itu pun diselingi dengan berjalan kaki.

Dari Desa bobalo ke ibu kota Kabupaten Parigi Moutong butuh 4 jam. Lalu dari Desa Bobalo ke Kota Palu ditempuh 6 jam perjalanan.

Satu-satunya moda transportasi adalah ojek. Jika sedang hujan, maka praktis jalanan licin. Maka, mau tidak mau ban belakang motor harus dipakaikan rantai agar tidak gam pang tergelincir.

Yah, memang sebagian jalanan sudah ada yang dibeton. Tetapi lebih banyak belum, itupun yang dibeton bolong sana sini terkikis hujan. Lebar jalan cuma setengah meter.

Sepanjang perjalanan harus melewati kebun kelapa, kebun kakao dan kebun cengkeh. “Jurang meng intai perjalanan kami. Termasuk saat mau pulang mudik,” ucap Tika yang akan segera melepas lajang ini.

Maka, setelah sampai di Sinjai, dia begitu senang. Anak ketiga dari pasangan Abdul Kahar Usman dan Sartuti ini bisa melewati rintangan pulang mudik. Tetapi kini, setelah Lebaran, dia harus berpikir untuk pulang ke daerah pengabdiannya. Artinya, dia harus melewati lagi apa yang dilalui saat mudik. (*)