Jalur Trans Sulawesi Banjir Setiap Tahun, BBPJN Seperti Tidak Serius

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SENGKANG — Jalur Trans Sulawesi yang amblas di Cempa Desa Pallawarukka Kecamatan Pammana, Wajo sudah lama menjadi keluhan bagi pengendara. Namun, penanganan serius ditunggu dari pemerintah tak kunjung datang.

Amblasnya jalan poros menuju Kabupaten Bone itu dikeluhkan, karena menjadi langganan banjir ketika Sungai Walennae yang berlokasi dipinggiran jalan meluap.

Berdasarkan pantauan FAJAR, ketinggian banjir di Km 17 sekitar 1 meter lebih dengan panjang mencapai 150 meter. Tak ada kendaraan roda empat dan sejenisnya dapat melintas.

Terkecuali, roda dua menyebrang menggunakan dua unit rakit serta dua unit jembatan darurat mengapung yang dibuat oleh warga setempat.

Warga setempat, Muhammad Akis mengatakan, terputusnya jalan menuju ke Bumi Arung Palakka sudah berlangsung hampir sepekan.

“Sehari sebelum lebaran idulfitri air Sungai Walennae meluap dan naik ke jalan. Dan sampai sekarang belum juga turun,” ujarnya, saat ditemui di lokasi, Sabtu, 8 Juni.

Kata dia, kondisi ini sudah lama terjadi. Biasanya jalur Trans Sulawesi ini menjadi langganan banjir satu hingga dua kali dalam setahunya.

“Karena kalaupun sudah ditimbuni dengan Sirtu, materialnya amblas lagi seperti tergerus ke sungai,” imbuhnya.

Ia pun sangat menyayangkan, jalan yang berada dekat dengan perbatasan Bone itu, harus berlarut-larut banjir. Tanpa solusi permanen dari pemerintah.

“Buktinya hanya penimbunan terus ji dilakukan oleh pemerintah. Tapi itu juga mubazir. Bagusnya sekali dikerja diberikan anggaran besar, tapi pemanenan,” sebutnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wajo Alamsyah mengaku, permasalahan banjir diatas jalur Trans Sulawesi sudah lama terjadi. Diperkirakan sejak 10 tahun silam atau setelah dirinya berakhir menjabat sebagai Camat Pammana pada akhir Februari 2009.

Banjir Kepung Sidrap, Puluhan Desa Terendam Air

“Kalau tidak salah jalan ini amblasnya 2010 awal. Sejak amblas dititik Cempa, banjir selalu naik seperti sekarang ini,” akuinya.

Selama sepuluh tahun tersebut, setiap kali dilakukan penimbunan. Tetap saja jalan poros Wajo-Bone ini amblas lagi dan banjir.

Tidak ada solusi ideal yang diberikan pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XIII Makassar, untuk menyelesaikan daerah langganan banjir ini.

“Kalau banjir naik ke jalan. Arus lalulintas kendaraan terganggu. Baik dari arah Wajo ke Bone atau sebaliknya,” terangnya.

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua II DPRD Wajo, Rahman Rahim juga sudah geram. Karena hingga sekarang tidak ada penanganan serius oleh BBPJN.

“Masyarakat dari Wajo atau Bone seakan dipaksa menderita, melalui jalan amblas dan banjir. Bayangkan kalau ini (amblas, red) sudah lama sekali,” kritiknya.

Dia pun mendesak BBPJN untuk merencanakan pembangunan jembatan ataupun pengalihan jalan yang baru, demi kelancaran lalulintas kendaraan di Km 17 ini.

“Kalau idealnya itu dibuatkan jalan alternatif. Kalaupun dibuatkan jembatan, tiang pancangnya harus betul-betul kokoh, supaya menahan material tidak tergerus ke sungai,” sarannya. (man)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...