Perang Dagang dengan Tiongkok, Industri Padat Karya AS Mulai Goyah

Minggu, 9 Juni 2019 - 21:46 WIB

FAJAR.CO.ID, WASHINGTON–Terkadang kebijakan tegas dan sedikit kejam memang diperlukan. Terutama dalam kasus-kasus ekstrem. Namun, kebijakan ekonomi Trump yang agresif bisa dibilang sedikit ngawur. Bisa-bisa kaki AS sendiri yang pincang karena peluru nyasar. Senjata makan tuan.

Tanda-tanda itu sudah muncul bulan lalu. Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan bahwa lowongan baru yang muncul pada Mei 2018 hanya 75 ribu pekerjaan. Jauh dari angka capaian April yang mencapai 224 ribu pekerjaan.

”Perlambatan ekonomi akibat perang dagang sudah terlihat di industri padat karya seperti manufaktur, konstruksi, tambang, atau kehutanan,” ujar Martha Gimbel, direktur penelitian Hiring Lab dari Indeed.com, kepada Washington Post.

Hoaks, Petinggi Polri Perintahkan Tangkap Perwira TNI Aktif?

Para pebisnis memang suka dengan kesempatan. Namun, mereka juga menganggap penting aspek kestabilan. Karena itu, Trump bukan kepala negara favorit mereka.

Aksi Trump sering kali tidak terduga. Mereka pun tidak bisa merencanakan usaha jangka panjang. ”Bagaimana bisa Anda mengumumkan perang dagang dengan salah satu rekan ekonomi terbesar. Padahal, Anda sedang berperang dengan rekan besar lainnya,” ujar Direktur MacKay Shields Michael DePalma.

Lama Antre di Dermaga, Belasan Penumpang Pingsan

Namun, kubu Trump terus menyangkal risiko-risiko yang dipaparkan pengamat. Soal melambatnya kinerja industri, Penasihat Ekonomi Gedung Putih AS, Kevin Hassett mengatakan bahwa faktor cuaca buruk penyebabnya.

”Banyak yang bilang perang dagang ini punya dampak buruk. Seharusnya mereka fokus pada kesepakatan dagang yang akan diciptakan,” ujar Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin. (jpnn)