Gegara Banjir, Batal Gelar Resepsi, Dievakuasi Usai Ijab Kabul

0 Komentar

Pasangan pengantin baru, Agus Salim dan Mardiana mestinya duduk semringah di pelaminan, Minggu, 9 Juni. Namun, apa mau dikata, di hari bahagianya, air bah membuat semuanya berantakan.

Laporan: Suardi Manyippi

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sejoli yang baru saja mengucap ikrar kesetiaan ini, tak pernah menyangka, waktu yang ditetapkan untuk melangsungkan pernikahan akan berakhir tragis. Banjir datang, dan menyapu setiap sisi ruangan resepsinya.

Meja, kursi, dan pernak-pernik pesta pernikahan sudah mereka siapkan. Sama seperti biasanya, gemerlap pesta diupayakan seteratur mungkin. Sebab, dia sadar, resepsi pernikahan adalah hari yang sangat penting.

Apalagi, dia tahu pernikahan sedapat mungkin harus digelar dengan mengundang banyak orang. Tentu saja sesuai kemampuan. Baginya, sebuah pernikahan harus diketahui sebanyak mungkin orang. Yah, ini syariat Islam, memutus fitnah saat keduanya mungkin berjalan berdua di tempat ramai.

Namun, harapannya jauh panggang dari api. Dia malah harus tertatih menyelamatkan diri. Gaun pengantin yang dikenakannya, tak lagi rapi. Dalam benak mereka, hal terpenting, terhindar dari banjir. Tak peduli lagi, rias wajah yang membuatnya anggun.

Dibantu tim SAR Batalyon B Polres Sidrap, mereka dievakuasi dengan menaiki perahu karet. Begitu pula dengan keluarga lainnya. Yah, apa boleh buat, bencana datang begitu tiba-tiba. Tak ada kompromi.

Untungnya keduanya baru saja mengucap ijab kabul di rumah sang mempelai wanita di Kelurahan Lancirang, Kecamatan Dua Pitue. Resepsi harus dibatalkan. Banjir menggenangi kolom rumah panggung itu sedalam kurang lebih semeter.

Pasangan yang ditunggu bulan madu ini mengaku tak kecewa. Keduanya, masih bisa tersenyum. Malah, ini dianggap bis jadi momen yang tak bisa mereka lupakan.

Apalagi terjadi di hari bahagia mereka, yang mestinya duduk dipelaminan. Berduaan dan disaksikan masing-masing orang tua. Menerima ucapan selamat.

Berjabat tangan dengan semua tamu undangan. Keluarga juga kerabat. Tetapi, ini malah banjir yang datang. Menghaburkan semua kursi yang sudah ditata rapi.

“Yang utama ijab kabulnya. Resepsi, tak apa batal. Yang penting semuanya juga selamat,” aku Agus, sembari tersenyum diiyakan Mardiana, istrinya itu.

“Kami mau ke Palopo saja. Di kampung saya,” sambung Agus.

Banjir bandang di daerah Cabbenge Soppeng, Minggu 09 Juni 2019. (Foto: Suardi/FAJAR)

Agus sadar. Pasrah saja. Tak bisa berbuat apa-apa. Mardiana, juga keluarganya pun demikian. Banjir tak bakal cepat surut. Di tiga Kecamatan di Kabupaten Sidrap diterjang banjir. Termasuk desa mereka.

Batal menggelar resepsi, mereka merasa harus mengambil hikmahnya. Terlebih segala sesuatunya yang kita kadang pandang tidak baik, justru baik di mata Allah swt. Demikian juga sebaliknya. Dengan begitu, dia memilih pasrah dan menyerahkan pada sang maha penentu. Allah swt.

Satu hal yang juga disyukuri adalah saat berharap dievakuasi. Tim gabungan TNI-Polri berada di sekitar lokasi. Tim SAR yang sudah mengantisipasi beberapa wilayah yang tergenang air memang langsung menyebar.

Alhasil, mereka bisa dengan cepat diselamatkan. Termasuk tamu undangan yang sempat hadir mengikuti prosesi ijab kabul mereka. “Yah mau apalagi. Tak menyangka ini terjadi. Kami mau ke Palopo saja. Pasrah saja,” ucap Agus. (*/arm)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...