Paradigma Baru Pembelajaran Bahasa Inggris

Senin, 10 Juni 2019 - 07:10 WIB
Muhammad Rusman. (ist)

Oleh: Muhammad Rusman (Guru  SMP di  Barru)

Pelajaran Bahasa Inggris tidak bisa dipungkiri betapa besar perannya dalam membentuk anak generasi berkualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Di sini peran guru menjadi sangat menentukan dan  menjadi kunci sukses membawa anak bangsa ini menjadi generasi yang hebat. Karena itu, terobosan-terbosan baru serta ide-ide cemerlang terhadap perbaikan pendidik selalu dibutuhkan.

Perubahan kurikulum tidak serta-merta disertai perubahan mind set guru terhadap subtansi kurikulum itu sendiri. Akibatnya, kurikulum bergerak cepat, tapi masih saja sebagian pola mengajar guru tak bersesuaian dengan perubahan itu sendiri. Proses belajar mengajar tidak mencerminkan apa yang menjadi keinginan kurikulum. Impian kelas komunikatif bahas Inggris tak begitu mudah dicapai

Pola pembelajaran bahasa Inggris sejatinya telah bergeser  dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber belajar melampaui batas guru dan satuan pendidikan. Rancangan pembelajaran diberi tahu menjadi mencari tahu juga rupanya  belum berbanding dengan keinginan kurikulum.

Ada beberapa kendala yang dialami guru, selain butuh waktu mendongkrak kemampun dasar siswa, juga kompetensi guru yang masih perlu terus ditingkatkan. Demikian pula sarana dan prasarana pendukung yang masih minim. Perencanaan pembelajaran yang dirancang berdasarkan analisis kriteria ketuntasan minimal kelas juga masih menemui kendala.

Sangat menarik pembelajaran bahasa Inggris dengan kurikulum pendidikan kita yang mengandalkan lima kekuatan pengalamaan belajar yang diikat dalam satu pendekatan baru yang disebut Scientific Approach. Pengalaman belajar seperti mengamati, menanya, menginformasikan, mengasosiasi dan mengomunikasikan menjadi satu kesatuan. Di sinipun masih banyak guru yang kesulitan menformulasikan kegiatan pembelajaran pada masing-masing pengalaman belajar. Apakah kegiatan belajar yang disusun sudah mencerminkan scientific approach seperti yang diinginkan kurikulum  ini ?

Idealnya guru harus mampu menganalisis kegiatan-kegiatan belajar, sehingga  mencapai titik singgung antara kegiatan belajar, pengalaman belajar, tujuan pembelajaran, indikator dan kompetensi yang ingin dicapai dalam satu perencanaan pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran bahasa Inggris  yang dirancang guru harusnya lebih fokus pada upaya membangun kemampuan berkomunikasi  bahasa Inggris siswa baik lisan maupun tulis. Ini juga tidak sepenuhnya tercapai seperti apa yang diharapkan. Problem  guru, siswa dan lingkungan sekolah makin berjarak dengan  hasil belajar serta out come pendidikan. Ini artinya ada proses yang tidak utuh. Pelatihan-pelatihan guru yang dilakukan selama ini lebih banyak berorientasi pengetahuan praktis terkait pengorganisasian perencanaan dan kurang menyentuh pengembangan kreativitas guru dalam proses belajar mengajar.

Sementara mempelajari bahasa akan selalu berhadapan dengan tujuan-tujuan obyektif bagaimana seorang pembelajar bisa berkomunikasi secara berterima dari bahasa yang sudah dipelajari. Sejalan dengan hal tersebut, silabus bahasa Inggris kurikulum baru tampaknya memberi ruang berkomunikasi secara luas, hal ini dapat dilihat dari kompetensi yang ditawarkan lebih banyak mengarahkan siswa menyusun teks lisan dan tulis serta memahami fungsi sosial, struktur teks dan fungsi kebahasaan.

Demikian pula implementasinya  dalam buku paket pelajaran bahasa Inggris yang ada saat ini berupaya membangun kelibatan siswa secara eksklusif dalam pembelajaran. Hal ini akan lebih baik bila alur pikir guru terhadap sumber-sumber pelajaran  terbangun secara baik, sehingga proses pembelajaran bahasa dalam kelas lebih kaya dan lebih inovatif. Apalagi saat ini arah pembelajaran bahasa Inggris terhadap empat skill, membaca, menulis, mendengar dan berbicara, tidak lagi disebutkan secara ekspilisit dalam silabus pembelajaran bahasa Inggris.

Persentuhan bahan ajar bahasa Inggris  dengan pengalaman kehidupan sehari-hari siswa, akan lebih mudah membentuk traksaksi komunikasi dengan sederhana dibanding memberikan pembelajaran diluar kehidupan sehari-hari siswa. Pada bagian tertentu siswa diajak menyimpulkan sendiri apa yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini sekaligus mengukur seberapa jauh siswa memahami sejumlah bentuk-bentuk komunikasi yang diajarkan dalam kelas.

Penerapan kurikulum 2013 untuk mata pelajaran bahasa Inggris adalah sebuah Paradigma baru pembelajaran bahasa  di kelas di mana guru dan siswa belajar dengan materi yang otentik dan berkaitan dengan lingkungan sehari-hari siswa. Sehingga guru bahasa mengajar tidak hanya bentuk namun juga isi yang lebih bermakna. Intervensi guru tetap diharapkan, namun tidak lagi memberi tahu.

Sungguh banyak kegiatan belajar yang bisa mendorong siswa menumbuhkan kemampuan berbahasa siswa. Perbanyak aktivitas produksi lisan mulai dari kegiatan komunikasi terbimbing hingga kegiatan komunikasi bebas. Pelatihan percakapan dengan berbagai metode bisa dilakukan. Hal ini bisa dilakukan  dalam beberapa tahapan, seluruh kelas, separuh kelas, per kelompok meja siswa hingga pengulangan oral per individu.

Apa yang dipaparkan di atas, hanya salah satu dari sekian banyak aktivitas bahasa di kelas. Karena pada akhirnya sukses tidaknya proses belajar mengajar bahasa  di kelas, peran guru teramat menentukan. Pola pembelajaran harusnya tidak mengarahakan siswa hanya hebat untuk menjawab soal-soal ujian. (*)