Pendatang: Dilema bagi Pemerintah Daerah

Senin, 10 Juni 2019 - 07:14 WIB
Ayub Parlin Ampulembang. (ist)

Oleh: Ayub Parlin Ampulembang (ASN BPS Sulawesi Selatan)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Makassar akan kedatangan pendatang-pendatang baru selepas lebaran. Biasanya mereka datang mengikuti keluarganya yang kembali dari mudik dan sudah lebih dahulu tinggal di kota Makassar. Cerita-cerita indah tentang kehidupan kota, acapkali menjadi daya tarik mereka untuk mencoba peruntungan nasib di kota.

Hadirnya para pendatang di setiap momen ini, tentu akan membuat jumlah penduduk Kota Makassar terus bertambah dari tahun ke tahun, disamping juga karena adanya penduduk yang lahir.

Untuk tahun 2018 sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan penduduk Kota Makassar sekitar 1,29 persen pertahun dari tahun 2017, atau bertambah sekitar 19,2 ribu jiwa penduduk, yaitu dari sekitar 1,49 juta jiwa tahun 2017 menjadi sekitar 1,51 juta jiwa di tahun 2018.

Banyak faktor yang mendorong orang datang ke kota. Umumnya karena alasan mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Namun, faktanya para pendatang baru yang mencari pekerjaan di Kota Makassar, biasanya berpendidikan rendah serta minim keahlian. Hal ini tentu menjadi dilema bagi pemerintah kota yang dituju, karena di satu sisi sama artinya dengan memindahkan kesusahan dari desa ke kota, namun di sisi lain hak pendatang sebagai warga negara juga tidak bisa dihambat untuk mencari kerja ke kota.

Karena itu, pemerintah kota pun harus serius menangani masalah ini, karena jika tidak akan menimbulkan dampak yang tak sedikit. Terbatasnya lapangan kerja dengan jumlah pendatang yang minim keahlian dan kemampuan kerja, otomatis akan menimbulkan banyaknya pengangguran.
Akibatnya masalah-masalah sosial bermunculan, seperti kemiskinan, aksi begal, pencurian, perampokan, pengemis, gelandangan dan lain sebagainya. Belum lagi dengan munculnya pemukiman-pemukiman kumuh yang sempit serta tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Ataupun kemacetan parah, yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari di jalan-jalan kota.

Berbeda halnya jika penduduk yang datang adalah mereka yang memang memiliki keahlian dan kemampuan baik, seperti yang dipersyaratkan dalam pasar tenaga kerja. Tentu tidak akan menjadi beban bagi pemerintah kota yang dituju, namun justru menjadi amunisi baru yang sangat dibutuhkan untuk menambah laju pergerakan roda perekonomian kota.

Tetapi perpindahan penduduk dengan kapasitas demikian, tentu menjadi dilema baru bagi pemerintah daerah yang ditinggalkan. Sebab, kondisi demikian akan menyebabkan berkurangnya penduduk yang mempunyai keterampilan kerja yang baik, yang semestinya masih amat dibutuhkan bagi pengembangan ekonomi di daerah tersebut.

Sehingga jika tidak dicegah, roda pembangunan daerah akan semakin lambat, karena kekurangan tenaga penggeraknya. Tetapi niat penduduk untuk meninggalkan daerahnya pun tentu tidak bisa dibendung. Selama daerahnya tetap miskin dan tertinggal, niat itu akan selalu ada.

Atas dasar itu, maka pemerintah daerah harus berupaya supaya perpindahan penduduk yang berketerampilan itu tidak sampai meninggalkan daerahnya. Jangan sampai potensi-potensi yang dimiliki oleh penduduk lokal berpindah atau lebih dimanfaatkan oleh daerah lain.

Usaha yang perlu dilakukan yaitu memperluas kesempatan kerja yang saat ini masih sangat terbatas dirasakan di daerah. Bukan hanya di sektor pertanian, namun juga menggenjot aktivitas ekonomi di luar sektor pertanian, seperti perdagangan, jasa dan usaha kecil menengah di desa. Hal ini amatlah penting untuk memperluas sumber pendapatan bagi penduduk desa.
Sehingga mereka tidak bergantung pada ekonomi usaha pertanian saja.

Selain itu, pemerintah daerah pun dapat mendorong pencari kerja untuk menumbuhkan ekonomi kreatif. Sudah saatnya pencari kerja berkreasi sendiri menciptakan lapangan kerja baru bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain di sekitarnya.

Apalagi di era revolusi 4.0 ini, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sangat mendukung penciptaan industri-industri kreatif di daerah. Banyak peluang kerja yang dapat diciptakan dari industri kreatif ini, mulai dari hal yang paling sederhana seperti bidang kuliner hingga ke bidang yang cukup canggih, seperti video, film, fotografi dan lainnya.

Apalagi saat ini kebutuhan masyarakat terhadap produk industri kreatif semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kemampuan ekonomi. Ketika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, maka kecenderungan masyarakat akan mencari kebutuhan lainnya, seperti produk kesenian, film, musik, dan fashion.

Kehadiran pemudik juga dapat membantu pengembangan industri kreatif di daerah. Saatnya ketika pemudik pulang, tidak lagi hanya menceritakan keindahan kota, yang bisa menjadi daya tarik sanak saudaranya untuk datang ke kota. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pemudik melakukan transfer ilmu atau pengalaman kerja, tentang peluang-peluang usaha ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan di daerah. Sehingga untuk mencari kerja, penduduk tidak harus ke kota, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja sendiri di daerahnya. (*)