Taj Hotel Mumbai

Senin, 10 Juni 2019 - 07:16 WIB

Oleh: Aidir Amin Daud

Mengisi waktu senggang liburan lebaran —saya mencoba menonton ulang film “Hotel Mumbai”. Kisah nyata tentang sebuah serangan teroris di Taj Hotel di Mumbai, India yang terjadi pada tahun 2008. Sebuah kenyataan juga tentang lemahnya kesiapan aparat keamanan lokal di Mumbai dalam menghadapi serangan teroris yang hanya dilakukan sekelompok teroris.

Hampir delapan jam tanpa perlawanan sama sekali. Sebuah hal yang luarbiasa karena ‘terorisme’ yang dirancang dengan baik bisa begitu mematikan dan melumpuhkan. Serangan ‘calon-pengantin’ yang begitu apik dengan peralatan yang sempurna dan keyakinan yang begitu hebat. Semoga tidak pernah terjadi di republik ini. Apalagi kita amat meyakini timi aparat yang diberi tanggungjawab terkait anti-terorisme, memiliki kehandalan yang cukup prima.
***
Bagi saya film “Taj Hotel Mumbai” bukan sekadar cerita tentang teroris. Namun juga tentang sebuah keyakinan, kesetiaan kepada keluarga, profesionalisme, kemanusiaan, dan kepahlawanan.

Ketika misalnya kepala Chef – Hemant Oberoi mempersilakan stafnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Oberoi berkata, “We should try to gather whoever we can. Many of you have families at home. There is no shame in leaving.” Ternyata tak ada satupun mereka yang ingin pulang. Bahkan salah seorang di antara mereka Butler Jamon mengatakan, “I have been here thirty-five years. This is my home.”

Kita juga menyaksikan bagaimana David sebagai seorang ayah memutuskan untuk menjemput bayinya. Ketika ia juga sudah bertemu sang bayi, ia memutuskan untuk meninggalkan kamar untuk segera menemui sang isteri Zahra.

Kita juga melihat bagaimana Arjun sang pelayan yang sempat bermasalah dan ‘diusir’ oleh Oberoi ternyata menjadi pahlawan karena menyelamatkam sejumpah orang ketika bisa meng-infokan bahwa yang berada di depan pintu VVIP-lounge adalah si teroris dan bukan polisi. Dan Arjun juga sempat menyatakan kepada David, “I need to stay alive and see them.” Ia menjawab David yang bertanya apakah ia punya keluarga.

Arjun meminta David tidak keluar dari ruangan karena sang teroris ada di luar. Namun David selalu ‘menantang’ situasi yang ada. Ini kemudian mengantarnya tewas oleh tembakan teroris dan tidak bisa bertemu lagi dengan bayi dan sang isteri Zahra.
***

Terlepas dari beberapa hal di atas, peristiwa teror di Mumbai pada tahun 2008 itu telah memberi begitu banyak pelajaran bagi kita. Bahwa peliputan yang terlalu terbuka bagi media, kadang juga tidak tepat. Kita melihat dalam film, bagaimana ‘otak’ pelaku mengendalikan lapangan dengan menyaksikan laporan berita dunia. Termasuk pergerakan pasukan khusus yang didatangkan dari New Delhi. Bagaiamapun tragedi Mumbai dengan sekurang-kurangnya 188 orang tewas — termasuk sekurang-kurangnya 22 warga asing — adalah sebuah duka yang tak boleh berulang.*