Tanggul Jebol, Waspada Banjir Susulan

Senin, 10 Juni 2019 - 12:51 WIB
Kondisi banjir Cabbenge akibat meluapnya sungai Walanae yang menggenangi pemukiman warga di sebagian besar wilayah Soppeng, Minggu, 9 Juni. (Asriadi/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Banjir akibat cuaca ekstrem di beberapa daerah, belum surut hingga Minggu, 9 Juni. Bahkan, meluas akibat beberapa tanggul jebol.

Debit air berlebih di Sungai Tanru Tedong, Sidrap, misalnya, mengakibatkan tanggul jebol. Tiga kecamatan di wilayah Sidrap, yakni Kecamatan Pitu Riawa, Dua Pitue, dan Pitu Riase, terendam banjir sejak Sabtu dan Minggu, 9-10 Juni.

Luapan air dari sungai di Sidrap juga mengakibatkan banjir di Kabupaten Wajo. Air yang masuk melalui Sungai Bila, melampaui kapasitasnya, bahkan mengakibatkan tanggul jebol di Dusun Lonra, Desa Sappa Kecamatan Belawa, Wajo, Sabtu, 8 Juni.

Di Sidrap, sedikitnya 2.047 Kepala Keluarga (KK) di wilayah Kecamatan Dua Pitue yang terkena dampak banjir. Jebolnya tanggul membuat warga mengkhawatirkan terjadinya banjir susulan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidrap meminta warga tetap waspada.

“Saat ini tanggap darurat bencana kita rencanakan 14 hari ke depan. Kita waspadai banjir susulan. Tentu kita harap itu tak terjadi,” ucap Kepala BPBD Sidrap, Siara Barang, kemarin.

Meski tak ada korban jiwa dan kondisi banjir, korban banjir membutuhkan makanan siap saji, obat-obatan, air bersih, tenda terpal, tikar, selimut dan kebutuhan lainnya.

Koordinator Penanggulangan Bencana Banjir Sidrap, Letkol Inf JP Situmorang membeberkan, BPBD Sidrap mencatat 2.047 KK terdampak banjir dan membutuhkan banyak bantuan.

“Kami fokuskan Posko Terpadu di sekitar Masjid Raudatul Jannah Tanru Tedong, Kecamatan Dua Pitue,” ujarnya.

Selain merendam rumah warga, banjir di Kecamatan Dua Pitue menenggelamkan sedikitnya 1.610 hektare persawahan. Kerusakan tanaman padi yang baru berusia sekitar 20 hari membayangi petani. “Banyak rumah rusak. Ini sementara didata teman-teman di lapangan,” ujarnya.

Sekda Sidrap, Sudirman Bungi, memastikan bantuan kepada semua korban banjir. “Sudah ada dapur umum dan posko didirikan di lokasi. Begitu juga tim kesehatan sudah berjaga. Semoga segera bisa dilalui,” harapnya.

Banjir Kiriman

Banjir akibat meluapnya sungai di Sidrap dan meluas hingga ke Wajo mengakibatkan tanggul jebol di Dusun Lonra Desa Sappa Kecamatan Belawa, Wajo.

Kepala Desa Sappa, Mustakim mengatakan, jebolnya tanggul akibat meluapnya Bendungan Bila di Desa Botto Kecamatan Pitu Riase, Sidrap.

Selain merendam ratusan rumah warga, banjir dengan ketinggian sekitar 65 cm juga menggenangi persawahan. Puluhan hektare sawah terendam di Dusun Bolamallempong dan Lonra Desa Sappa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wajo, Alamsyah menjelaskan, banjir sudah meluas ke 11 kecamatan di Wajo. “Daerah terendam banjir, Kecamatan Belawa, Maniangpajo, Tanasitolo, Tempe, Pammana, Sabbangparu, Takkalalla, Pitumpanua, Keera, Penrang, dan Sajoangin,” sebutnya.

Selain tanggul di Sappa, tanggul Sungai Walennae yang berhadapan SDN 75 Ujungpero ikut jebol, Minggu, 9 Juni. “Peralatan sekolah tidak terselamatkan. Debit air di titik ini memang diatas ambang tanggul, jadinya meluap kemudian jebol,” terangnya.

Banjir setinggi lutut orang dewasa dengan cepat menggenangi permukiman warga Ujungpero dan sekitarnya. “Rumah yang terendam sudah ratusan di Sabbangparu dan dua rumah panggung dilaporkan hanyut,” kata mantan Camat Pammana ini.

Luwu Terendam

Hujan deras mengguyur Kabupaten Luwu, Sabtu 8 Juni, dan membuat beberapa air sungai meluap hingga ke permukiman warga. Banjir menggenangi wilayah Kecamatan Ponrang, Suli, Suli Barat dan Larompong.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu, mendata beberapa desa dan kelurahan terendam, di antaranya Kelurahan Larompong di Kecamatan Larompong. Lalu, Desa Botta, Lempopacci, Kombong, dan Kelurahan Suli yang berada di Kecamatan Suli.

“Setelah mendapat laporan dari warga, kami langsung turunkan TRC ke lokasi banjir. Kami masih siagakan tim di lokasi untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu air sungai meluap karena curah hujan yang tinggi,” kata Hasta, Sekretaris BPBD Luwu, Sabtu 8 Juni.

Di lokasi, Tim Reaksi Cepat (TRC) melakukan penanganan darurat dalam mengantisipasi banjir susulan serta mendata warga korban banjir.
“Insya Allah besok akan dilakukan penyaluran logistik,” kata Hasta.

Akses Terputus

Ruas jalan di Nanggala, Toraja sudah tiga hari ambles. Lokasinya di Kilometer 13 sebelum memasuki kota Rantepao, Toraja Utara. Ruas jalan tak bisa dilewati mobil. Hanya sepeda motor yang dapat melintas.

Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan sudah meninjau lokasi dan memerintahkan BPBD Toraja Utara untuk melakukan penanganan guna melancarkan arus lalu lintas pada poros tersebut.

Jalur kendaraan dari Palopo dialihkan melalui Lilikira ke Balusu terus menuju poros Sa’dan ke Rantepao sementara dari arah Rantepao lewat poros Sarambu- Baba Bapa ke Penania keluar di Keleakan.

Sebagian warga terpaksa menunda perjalanannya. Bahkan ada yang berputar melalui Sidrap dan Sulbar bagi pemudik yang hendak ke Sulawesi Tengah, karena jalur alternatif tersebut juga macet.

Kepala BPBD Toraja Utara, Alexander Tappang mengatakan, penyebab jalan ambles akibat hujan dengan intensitas tinggi. Bencana tersebut kini ditangani pihak Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XIII Makassar.

Respons Gubernur

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengaku sudah berkomunikasi dengan semua kepala daerah di wilayah yang terdampak banjir. Dia juga sudah meminta BPBD dan Dinas Sosial segera ke lapangan.

Melakukan evakuasi korban atau penanganan lain yang dibutuhkan oleh masyarakat korban banjir. “PKK juga akan bergerak ke daerah besok (hari ini, red). Dinas Sosial sudah ada di lokasi banjir, BPBD juga telah melakukan evakuasi korban di wilayah-wilayah tersebut,” katanya kepada FAJAR, kemarin.

Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman juga baru datang dari Bone, malam kemarin. Kondisi kampungnya di Desa Mattiro Deceng, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone cukup mengkhawatirkan.

Bahkan salah satu jembatan gantung di wilayah tersebut rusak. Lantaran terseret air sungai yang kini terus naik dan mengancam pemukiman warga. (sua-man-shd-fkt-ful-fit/rif-arm)