Balas Dendam Termanis

0 Komentar

Oleh: Nurul Ilmi Idrus

Hari Raya Idulfitri baru saja berlalu. Idulfitri dikenal sebagai momen maaf-memaafkan. Kegiatan rutin yang menyertainya adalah ritual halalbihalal. Frasa yang lazim kita dengar adalah “minal aidin walfaizin, maafkan lahir dan bathin”. Benarkah kita betul-betul memaksudkan kata-kata yang diucapkan? Betulkah kita bersalaman untuk itu? Kenapa pertanyaan itu muncul?

Dalam sebuah acara halalbihalal, saking banyaknya orang yang disalami, terkadang maaf itu hanya “sekadar kata” dan salaman itu hanya sekadar “persentuhan antara dua telapak tangan”. Jika diperhatikan, tak jarang orang bersalaman, tapi matanya tertuju ke arah lain, padahal kontak/arah mata adalah bagian penting dalam salam-salaman. Ini bisa terjadi jika orang menganggap bahwa jika salaman telah dilakukan dan kata maaf telah diucapkan, maka “kewajiban” persentuhan fisik dan pengucapan kata simpel tersebut telah digugurkan.

Selain itu, terkadang orang yang akan mengucapkan kata maaf itu begitu dipenuhi oleh rasa was-was terkait kata-kata apa yang akan menyertainya, kapan mengucapkannya, dan bagaimana mengucapkannya. Maaf memang sebuah kata simpel tapi kata itu sendiri tak sesimpel mengucapkannya, apalagi setelah memaafkan masih menimbulkan tanda tanya, apakah semuanya dianggap selesai? Ini mengindikasikan bahwa bukan hanya mengucapkannya saja yang sulit, tapi pasca memaafkan itu sendiri juga tidak sesimpel katanya. Memaafkan membutuhkan kekuatan diri. Tidaklah mengherankan bila dikatakan bahwa orang yang paling kuat adalah orang yang memaafkan.

Jika seseorang memaafkan, itu tidak berarti bahwa ia telah mengubah apa yang terjadi pada masa lampau karena sesuatu yang telah terjadi tidak dapat dihapus. Tapi, dengan memaafkan, seseorang telah mengubah situasi di masa depan, dan membuat hidup menjadi lebih mudah. Paling tidak telah meringankan sesuatu beban yang terganjal di masa lalu, apalagi jika beban tersebut adalah sebuah dendam. Dendam adalah perusak mental dan fisik, serta pemborosan kebahagiaan yang sempurna, dan ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa meminta maaf dan memaafkan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan seseorang (mengurangi risiko sakit jantung, mengurangi tingkat kecemasan, dll.), sebagaimana slogannya “forgive, for health”.

Hidup ini terlalu singkat untuk tidak dinikmati. Mari memberi/memohon maaf ketika itu harus dilakukan. Jika orang tak mau memaafkan maka itu adalah masalah dia, bukan masalah kita. Di momen lebaran ini saya ucapkan: “Minal Aidin Walfaizin, Maafkan Lahir dan Bathin” karena sesungguhnya memaafkan adalah balas dendam termanis. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...