Calon Non Partai Ancam Kader, Banyak Lebih Menjual

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Kader non partai bermunculan menjadi bursa calon Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar. Kader partai terancam.

Perebutan usungan diprediksi terjadi gesekan di internal partai politik. Kader partai bisa saja tidak diusung. Hal itu dikemukakan oleh Pengamat Politik UIN Makassar, Firdaus Muhammad.

“Makanya ada benturan di internal partai. Saat ini banyak figur non kader atau profesional muncul. Itu bisa mengancam posisi kader dari partai,” katanya, Senin, 10 Juni.

Kemungkinan tersebut bisa terjadi. Mengingat pengalaman pilkada selama ini. Di mana, partai lebih cenderung melirik figur non kader. “Biasanya ada kader sudah mau maju tapi belum dapat dukungan dari partai. Ini jadi soal juga di pilkada,” tambahnya.

Ia melihat, komunikasi lintas partai politik masih sangat begitu cair. Tidak ada partai yang cukup mengusung satu pasangan. Makanya harus ada koalisi.

Misalkan dua partai besar yakni Partai Nasdem dan Golkar. Bila kedua partai ini menyatu, tentu memiliki peluang menang besar. Tetapi sebaliknya, dua partai ini bisa menjadi lawan. “Belum lagi kalau ada kesepakatan antara partai,” ungkapnya.

Sejauh ini calon non kader bermunculan yakni diantaranya, Sukriansyah S Latief, Fadli Ananda, Taufik Fachruddin, Husain Abdullah, Irman Yasin Limpo, Andi Rukman, dan Munafri Arifuddin.

Kader partai politik, sejumlah nama muncul, dari Partai Golkar, yakni Rusdin Abdullah, Syamsu Rizal, dan Farouk M Betta, sementara, Demokrat: Adi Rasyid Ali dan Aliyah Mustika Ilham. Di Nasdem: Moh Ramdhan Pomanto dan Andi Rachmatika Dewi.

Soal Pilwalkot, Ketua Demokrat Makassar, Adi Rasyid Ali mengaku belum bisa komentar banyak. “Masih lama. Kita tunggu saja ini berjalan,” kata Wakil Ketua DPRD Makassar itu.

Begitu pun Ketua Golkar Makassar, Farouk M Betta belum menyingung Pilwalkot Makassar. Namun, baginya, meski dirinya gagal di Pileg Makassar, bukan hanya halangan.

Dia sebut politisi dapat “terbunuh” berkali-kali, tetapi, setelah terbunuh, dapat bangkit kembali. “Jadi jangan khawatir. Berkali-kali mengalami situasi yang sulit di politik adalah hal yang normal,” kata Aru, sapaan karibnya, Senin, 10 Juni.

Menurut dia, politikus gampang bangkit kembali. Gagal dalam satu momen pemilu, bagi Aru, bukan suatu alasan sampai berhenti di dunia politik. “Politik itu persoalan momentum,” singkatnya.

Kumpul KTP

Relawan bakal calon wali kota Makassar, Sukriansyah S Latief mulai bekerja. Bentuk dukungannya dengan mengumpulkan dukungan kartu tanda penduduk (KTP).

“Bentuk dukungannya berinisiatif. Ada membuat dan mencetak spanduk maupun stiker sendiri. Ada juga yang rela membranding mobilnya dengan stiker UQmo,” kata Jubir UQ, Haeruddin Nurman.

Gerakan yang cukup menarik lanjutnya, kreativitas pengguna media sosial yang kompak rame-rame memasang logo “I m with UQ agang ta’ di samping foto dirinya.

Gerakan dukungan yang cukup fenomenal ini mampu menyedot perhatian warga Makassar. “Makanya ada gerakan mengumpulkan KTP sebagai bentuk dukungan,” tuturnya.

Relawan yang disapa UQ ini juga membantu warga Jalan Daeng Hayo, Antang pada Sabtu dini hari, 8 Juni terkena kebakaran.

“Ini bentuk kepedulian kami sesama manusia untuk saling membantu,” kata Anwar Relawan UQ, kemarin. (taq)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment