Mahasiswa Unhas Sulap Pengharum Ruangan untuk Usir Hama Burung

0 Komentar

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR — Tiga mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang bergabung dalam tim penelitian Tanoto Student Research Award (TSRA) menciptakan sebuah alat yang memudahkan petani. Nama alat tersebut, Automatic Bird Repellent (ABR).

Mereka adalah Yusril Hardiansyah, Nurhidayat, dan M Arif Fikri Al-Ridho. ABR merupakan alat pengusir burung yang mengombinasikan mesin pengharum ruangan menggunakan sumber daya hayati.

“Sumber daya hayati yakni jengkol, buah bintaro, dan bawang putih yang telah diekstrak sehingga mengeluarkan aroma yang tidak disukai oleh hama burung,” ungkap Yusril saat berkunjung ke Redaksi Harian FAJAR bersama Nurhidayat, Senin, 10 Juni.

Yusril mengisahkan, ide pembuatan alat ini berawal dari keresahannya melihat produksi beras yang semakin berkurang. Padahal, pada 2045 mendatang, Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Untuk itu, kata dia, perlu adanya antisipasi sejak dini permasalahan yang timbul dalam proses budidaya padi. Salah satunya adalah mengendalikan hama burung pemakan padi.

“Hama burung dapat memakan padi rata-rata sebanyak lima gram dalam sehari. Sementara, cara tradisional masih dilakukan seperti pemasangan orang-orang sawah, kaleng pada tali, dan lainnya. Jika cara tersebut tidak berhasil, petani harus terjun langsung. Sangat melelahkan dan merepotkan,” ungkap mahasiswa semester enam ini.

Sementara alat buatan mereka akan menyemprot secara otomatis dalam rentan waktu 10 menit, 20 menit, dan 40 menit dengan jarak dua meter.

“Kami modifikasi tabung refill agar volume dan waktunya sesuai. Meski jarak semprotnya hanya dua meter, namun bau cairannya akan menyebar sehingga hama burung pun pergi. Baunya tidak akan hilang meski banyak embusan angin,” kata mahasiswa kelahiran Makassar, 17 Juni 1998 silam ini.

Anggota tim lainnya, Nurhidayat menambahkan, karya mereka akan terus dikembangkan. Rencananya, ABR akan menggunakan sensor yang dapat mendeteksi keberadaan hama burung atau dikontrol menggunakan aplikasi di gawai.

“Kami berharap alat ini dapat menjadi solusi dari keresahan petani. Kalau bisa, ke depan dapat diproduksi secara massal. Baik tabungnya maupun cairannya,” sebut Nurhidayat. (sul/yuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...