Mengembalikan Sulsel sebagai Lumbung Sapi Potong

Selasa, 11 Juni 2019 - 07:13 WIB
Herry Sonjaya. (ist)

Oleh: Herry Sonjaya (Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin)

Sulawesi Selatan di era tahun 1970-an pernah mengekspor ternak hidup ke negara tetangga seperti ke Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Namun, era berjaya Sulawesi Selatan sebagai lumbung ternak sapi potong semakin menurun drastis.

Pada era 1970-an populasi sapi Sulawesi Selatan (Sulsel) didukung oleh luas areal pengembalaan yang luas dan limbah pertanian cukup berlimpah, dan kebutuhan akan daging dalam negeri masih terbatas. Di era selanjutnya, daya dukung wilayah semakin menurun yang disebabkan padang penggembalaan banyak dibuat perumahan dan perkebunan, limbah pertanian semakin menyusut akibat areal persawahan menurun.

Di era tahun 2002-2006, populasi sapi di Sulawesi Selatan terjadi penurunan sapi potong sebanyak -2,63 persen per tahun, hal ini diduga penyebabnya adalah: (1). Tidak seimbang antara produksi dan permintaaan daging, (2). Tingginya angka pemotongan ternak betina produktif, (3) Rendahnya angka kelahiran ternak,(4). Tingkat pengeluaran ternak sapi dan kerbau untuk perdagangan antar pulau tidak terkontrol, terutama yang dilakukan pedagang antar pulau ilegal, dan (5) Tidak adanya pembibitan terprogram.

Industri Peternakan Sapi Potong di Sulsel juga tidak berkembang akibat perubahan status dari peternakan sapi potong menjadi perkebunan kelapa sawit dan singkong, contoh Ranch PT BMT di daerah Siwa-Maiwa, PT BULI semakin hilang eksitensinya karena ada penyerobotan tanah. Pada era 2010-an pemerintah lebih mementingkan impor sapi daging dari Australia karena harga sapi asal Australia ini lebih murah daripada sapi lokal.

Untuk mengurangi impor ini, pemerintah telah mencanangkan program Gertak Berahi dan Inseminasi serta Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB, 2017-2019), dengan harapan terjadi peningkatan populasi sapi ‎dan kerbau Indonesia sebanyak 18,2 juta ekor tahun 2019 meningkat tahun 2016 menjadi 33 juta ekor.

Namun keberhasilan UPSUS SIWAB di Provinsi Sulawesi Selatan, masih belum memenuhi harapan , realissi masih dibawah target. Data tahun 2018 menunjukkan realisasi induk bunting hanya 33.456 ekor atau 56,59 persen dari target induk bunting 60.00 ekor dan buntinghasil kawin alam 24 020 ekor sehingga total kebuntingan sejumlah 57.976 ekor per tahun . Rendahnya angka kebuntingan disebabkan penetapan target akseptor betina, induk yang di IB, dan induk bunting sangat rendah bila dibanding jumlah betina produktif 750.000 ekor betina (35 persen dari total populasi sapi).

Beberapa strategi yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah Sulawesi antara lain: (1), Program Upsus Siwab yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat perlu ditingkatkan kinerjanya, terutama target yang ditetapkan dan realisasi pelaksanaanya., (2). Penyuluhan dan pendampingan peternak untuk mengubah cara berpikir dari pelihara ternak sebagai usaha tabungan keluarga menjadi berorientasi busines.

Pengalaman penulis melaksanakan pendampingan sistem perbibitan Sapi Bali berbasis peternakan rakyat di kabupaten Barru, dapat menghasilkan bibit sapi sesuai Standar Nasional Indonesia dan meningkatkan harga sapi bibit betina tinggi pundak 105 cm yang asalnya haga Rp5 juta menjadi Rp7,5 juta. (3) Mencegah dan mengurangi pemotongan betina produktif dan penerapan bioteknologi reproduksi pada program Upsus Siwab seperti sinkronisasi berahi.

Pemotongan betina produktif masih berjalan meskipun ada larangan Perda No 18/2009, pasal 18 dan 86. Solusinya perlu investor untuk beli sapi betina produktif dari peternak atau pedagang. Solusi jangka panjang penerapan IB menggunakan sperma seksing, Peran UPTD Pelayan IB dan Produksi Semen di Puca Maros sangat diperlukan.

(4). Peningkatan kapasitas kinerja Kelembagaan Petani/Peternak menjadi badan usaha dari beberapa kelompok peternak, mendirikan Asosiasi Perbibitan Ternak, (5). Pemetaan sentra produksi ternak sapi potong untuk dijadikan daerah pembibitan sapi. Di daerah sentra produksi sapi juga dapat dijadikan wilayah pembibitan sapi unggul khas Sulawesi Selatan. Perlu program perbibitan jangka panjang yang tertata dengan baik serta perbibitan ternak lokal yang terencana dan tersistem berdasarkan kaidah ilmiah, dan (6) Penerapan Sistem UsahaTerpadu antara peternakan dan perkebunan di tanah milik perusahaan perkebunan.

Dengan kembalinya Provinsi Sulawesi Selatan sebagai lumbung ternak sapi, maka dapat diperoleh beberapa keuntungan, selain faktor ekonomi meningkatkan pendapatan masyarakat petani-peternak, menumbuhkan UKM dan Industri biologis bidang peternakan (pengolahan daging, kompos, pupuk urin, penyamakan kulit, dll). Selain itu, juga membantu pemerintah pusat dalam mengurangi ketergantungan impor daging sapi dan menjadi provinsi pengekspor sapi serta produk turunannya. (*)