Pilihan Diksi

Rabu, 12 Juni 2019 - 06:56 WIB
Hasrullah. (dok)

Oleh: Hasrullah (Dosen Fisip-Unhas)
Memulai diskursus wacana pada setiap perdebatan di depan publik, sepantasnya kita memilih kata yang memberikan kesejukan, apalagi ketika berpidato.

Selayaknya, narasi yang disampaikan di depan publika dalah kalimat-kalimat positif dan menyejukkan serta bernuansa motivasi. Oleh sebab itu, ada baiknya kita menyimak pendapat seorang penulis handal kelahiran Amerika Serikat, William Arthur Warddengan kata bijaknya, “Guru yang biasa-biasa saja, memberitahu. Guru yang baik, menjelaskan. Guru yang unggul, menunjukkan. Guru yang luar biasa, selalu mengispirasi.”

Makna bijak di atas, sebaiknya menjadi petunjuk kepada siapa saja yang diberi amanah sebagai pemimpin. Kesejukan dan kesopanan kata yang terlontar di depan publik selalu memberi motivasi untuk berbuat yang terbaik di mana dia mengabdi. Kata-kata pamungkas yang terkemas dalam narasi pidato apik akan menjadi key word atau “peluru emas” yang ditembakkan ke kepala khalayak sehingga tertancap di pikiran – perasaan khalayak sehingga terhenyu dan tersadar “dalam tidur” akibat diksi pilihan terbaik.

Maka pilihan kata atau diksi yang dipilih oleh seorang pemimpin telah menjadi senjata utama untuk memotivasi seseorang. Diksi yang positif akan merangsang pikiran dan perasaan bahwa pemimpin telah memainkan dirinya sebagai “guru” motivasi karena kata-katanya selalu menginspirasi. Maka dari itu, sebagai pemimpin jangan sampai memilih kata tidak tepat dalam menyampaikan pesan di depan publik. Kita tidak boleh menyampaikan kata yang membunuh dan mempermalukan seorang bawahan.

Gunakan kata empati, jika seorang bawahan melakukan “kesalahan-kecerobohan” apalagi dipermalukan di depan publik dalam suasana Halalbihalal, maka akibatnya menghukum secara sosial dan merusak nama baiknya. Kita perlu ingat, sebagai pemimpin kita tidak boleh terlontar kata-kata yang dapat menyakitkan bawahan dan dampak sama mempermalukan dan menelanjangi bawahan image buruk.

Persepsi lain, kalau ada pemimpin “menghukum” bawahan, dapat mencerminkan bahwa pemimpin tersebut lagi tidak dapat melakukan self control: marah, galau, kalap, emosi, berbicara dalam tekanan, dan kehilangan rasionalitas sehingga lahirlah pilihan kata yang negatif dan tidak pantas diucapkan sebagai pemimpin.

Efek lain yang ditimbulkan bagi pemimpin yang kehilangan logika positif dan pengendalian diri, maka hukuman publik menyerang balik ke pemimpin tersebut. Asumsi muncul dari diksi yang “emosional” ternyata pemimpin berkarakter temperamental dan tidak siap menjadi seorang pemimpin yang mau menerima kenyataan kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya.

Karakter yang handal dan berintelektual selama ini disandangnya, khalayak dapat memberi penilaian adalah pemimpin yang kurang matang dalam menghadapi masalah dan tidak mempunyai kecerdasan komunikasi publik yang handal. Apalagi pemimpin tersebut mengekspose masalah internal di tempat umum yang sebenarnya dapat menempuh cara-cara yang elegan dengan menyelesaikan masalah mismanagemen yang dihadapi.

Perlu diingat, ketika seorang pemimpin melontarkan diksi yang negatif, seperti pilihan kata: “penghianat, duri dalam daging, dan pembocoran rahasia” adalah kata-kata ‘pembunuh’ di mana pemimpin tersebut tidak dapat mengontrol ucapan yang sebenarnya boleh menggunakan kata-kata lain yang sejuk. Ketika diksi yang dilontar ke publik, maka diksi tersebut bukan lagi milik sang pemimpin, tapi kata itu adalah milik publik yang penafsiran bermakna ganda. Sekaligus kata pilihan itu tidak bisa dihapus. Apalagi media massa dan media sosial selalu menjadikan diksi “nakal” dijadikan head line media.

Olehnya itu, sebaiknya menjadi pemimpin tidak hanya berdasarkan modal prestasi leadership dan bekal branding personal dan branding image. Pemimpin yang handal perlu juga memiliki kecerdasan berpidato dan kecerdasan menghadapi para wartawan ketika di mintai komentar terhadap isu strategis yang cenderung “nakal”. Pilihlah diksi cerdas dan bijak serta menginspirasi sehingga hukum besi khalayak tidak memukul balik pemimpin (dihukum oleh publik).

Akhirnya, saya ingin mengutip naskah etika jika ada atasan ingin memberhentikan dengan cara bahasa yang halus (eufimisme) bukan dengan diksi penghinaan (sarkasme). Pemimpin tersebut dapat mengatakan sebagai berikut : “dari hasil pengamatan dan pertimbangan yang matang, Saya menyarankan kepada Anda mencari kesibukan lain atau ada posisi yang paling tepat. Maka dari itu, terimalah dengan baik hati. Dan, Saya menyampaikan terima kasih dan kerja samanya selama ini. Wassalam. (*)