Restorasi Danau Tempe

Rabu, 12 Juni 2019 - 07:01 WIB
Andi Iqbal Burhanuddin. (ist)

Oleh: Andi Iqbal Burhanuddin (Guru Besar Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas)

Danau merupakan ekosistem perairan yang keberadaannya penting dalam pemenuhan kebutuhan kehidupan manusia.

Selain dimanfaatkan sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari, danau juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi air, sumber air baku industri, energi, irigasi, pariwisata, serta sumber protein dari usaha perikanan. Ekosistem danau sangat erat kaitannya dengan ekosistem alam di sekitarnya karena daerah di sekitar danau merupakan daerah tangkapan air yang berfungsi sebagai pengumpul air dan sumber air danau. Ironisnya, keberadaan sejumlah danau di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 740 sudah sangat mengkhawatirkan. Termasuk Danau Tempe yang terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo, tepatnya di Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Kota Sengkang.

Aktivitas antropogenik berupa pengelolaan lingkungan yang dilakukan dengan tidak berdasarkan pada prinsip kelestarian menyebabkan degredasi dan perubahan-perubahan yang berdampak terhadap kualitas lingkungan dan tidak jarang menjadi bencana banjir. Selama ini penyelamatan ekosistem danau belum efektif karena sifatnya parsial, sporadis, dan sektoral oleh pemerintah pusat dan daerah, komunitas, serta pelaku usaha.

Oleh karena itu, sangatlah mendesak pemerintah melakukan upaya terobosan agar dapat mengatasi permasalahan lingkungan di kawasan ekosistem danau. Itu dengan pengelolaan danau secara terpadu yang berbasis pada pendekatan holistik dari aspek ekonomi, sosial, budaya, tata ruang, dan lingkungan.

Danau prioritas
Ekosistem danau diperlukan untuk menunjang suksesnya berbagai bidang dalam program pembangunan di antaranya bidang pertanian, perikanan, perhubungan, pariwisata, dan lain-lain. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, Danau Tempe adalah salah satu dari 15 danau prioritas dalam program Penyelamatan Danau Prioritas Nasional, dan Revitalisasi Gerakan Penyelamatan Danau.

Selain Danau lainnya seperti Rawapening di Jawa Tengah, Rawa Danau di Banten, Danau Batur di Bali, Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Kerinci di Jambi, Danau Maninjau, Danau Singkarak di Sumatera Barat, Danau Poso di Sulawesi Tengah, Danau Cascade Mahakam-Semayang, Danau Melintang dan Danau Tondano di Sulawesi Utara, dan Danau Matano di Sulawesi Selatan, Danau Limboto di Gorontalo, Danau Sentarum di Kalimantan Barat, Danau Jempang di Kalimantan Timur, dan Danau Sentani di Papua.

Danau Tempe jika dilihat melalui satelit akan tampak seperti wadah raksasa yang diapit oleh tiga buah kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Berdasarkan data arkeologi nasional, Danau Tempe adalah sebuah danau tektonik yang terbentuk dari proses geologis di atas lempengan benua Australia dan Asia.
Di era tahun 1970-an, Danau Tempe yang merupakan muara  Sungai Walanae adalah salah satu pemasok utama kebutuhan ikan konsumsi di Jawa. Bahkan sempat menjadi sumber terbesar ikan sidat untuk kebutuhan ekspor Indonesia. Kini Danau Tempe saat kemarau, airnya menyusut sangat drastis hingga mengering dan tidak jarang menjadi sumber konflik dalam pengusahaan pertanian.

Kerusakan lingkungan Danau Tempe telah mengalami tingkat yang cukup parah sehingga fungsi ekonomi sebagai sumber perikanan air tawar dan fungsi ekologis juga mengalami gangguan. Bahkan mengakibatkan bencana banjir setiap tahun, rumah panggung penduduk terendam, terkadang memaksa penduduk berhenti beraktivitas. Masuknya nutrien dari limbah domestik, serta pertanian secara tidak terkendali menyebabkan suburnya eceng gondok di perairan sehingga sebagian besar permukaan danau tertutupi tumbuhan dan menghambat penetrasi cahaya matahari untuk proses fotosintesis.

Selain penurunan produktivitas perairan oleh eceng gondok, problem lain yang terjadi adalah pendangkalan oleh masukan sedimen yang berasal dari sekitar danau, kegiatan pengolahan tanah untuk lahan pertanian serta penebangan hutan yang dilakukan secara intensif maupun akibat erosi di wilayah DAS di daerah hulu. Akibat proses sedimentasi yang terjadi terus-menerus dan meningkat setiap tahunnya menjadikan Danau Tempe yang selama ini menjadi habitat ikan air tawar dan satwa burung diperkirakan akan menjadi daratan yang hanya meninggalkan kenangan nama.

Sinkronisasi pengelolaan
Restorasi dan upaya optimalisasi manfaat ekonomi dari sumber daya perikanan Danau Tempe yang keberlanjutan harus selaras dengan karakteristik ekologis serta daya dukungnya. Perhatian pemerintah terhadap manajemen danau perlu dibenahi demi keberlajutannya dengan mengidentifikasi dan memetakan gangguan eksternal yang mengancam, baik secara fisik, kimia, biologis, maupun sosial ekonomi.

Mengidentifikasi dan estimasi risiko, dampak yang timbul bila bahaya berubah menjadi bencana, dan meningkatkan kesiapsiagaan. Tentunya, wilayah yang dikelola bukan hanya badan air danau dan reservoir tetapi meliputi seluruh wilayah, mulai dari badan air danau, sub-wilayah sungai di hulu maupun di hilir.
Perlu penetapan zonasi kawasan danau menjadi kawasan konservasi dan pemanfaatan serta kawasan penyangga sehingga pengelolaan menjadi lebih fokus dan terintegrasi.

Hal itu sebagai upaya menjaga kesatuan fungsi antara ekosistem danau, sungai, hutan, dan biota. Selain itu, tak kala pentingnya adalah pengelolaan danau berkelanjutan tidak boleh hanya dikerjakan oleh satu lembaga/institusi secara eksklusif, namun membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak, baik swasta maupun masyarakat serta perlunya sinkronisasi regulasi dalam pengelolaan danau. Sehingga pemanfaatan ekosistem danau selaras dengan pembangunan berkelanjutan yang menjadi pijakan dasar pembangunan nasional. (*)