Kecintaan pada Makassar dan Seorang Ibu

Kamis, 13 Juni 2019 - 07:31 WIB
SELAMAT JALAN . Istri Jenderal (Purna) TNI, George Toisutta, Noeralam didampingi keluarga yang lain saat melakukan Tabur Bunga usai Upacara pelepasan jenazah di TPU Dadi, jalan Lanto daeng Pasewang Rabu,12 Juni. Pada bagian lain, almarhum saat masih hudup. (FOTO NURHADI/FAJAR)

Jenderal TNI (Purn) George Toisutta meminta dimakamkan bersama sang ibu, Siti Hasanah. Itu pesan “Sang Jenderal” sebelum tutup usia.

LAPORAN: AGUNG PRAMONO, Makassar

ADA cerita di balik kepergian George Toisutta. Jenderal empat bintang yang menghabiskan waktu kecilnya di Kota Makassar. Itu sebabnya, semasa hidup, dia begitu bersemangat setiap kali Makassar disebut.

George remaja mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Makassar sebelum masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Dia senang bermain bola saat kecil bersama anak-anak Makassar lainnya. Itu sebabnya, George Toisutta pernah hampir memimpin induk sepak bola nasional, PSSI.
Namun, lebih dari itu, Toisutta adalah seorang jenderal yang tumbuh dalam kasih sayang dan pelukan ibu saat mulai beranjak dewasa. Begitu dia menjalani pendidikan di Akabri, ayahnya yang merupakan mantan Dandim Bolaang Mongondow, Letnan Kolonel Cristianto Toisutta, meninggal dunia.

Dari situ, Toisutta melihat ibunya begitu tegar. Lahir di lingkungan prajurit, dia tumbuh sebagai pribadi yang kuat. Ibunya memberikan banyak tempaan tentang menjalani kehidupan. Itu salah satu alasannya memilih pembaringan terakhir di samping pusara sang ibu.

Apalagi, setelah ayahnya meninggal, sungguh sakit yang dirasakan George. Sang ibu terus yang merawatnya, memberinya semangat saat pendidikan. “Kedekatan almarhum dengan ibunya sangat dekat. Apalagi saat pendidikan,” tutur kakak Ipar, HM Asri Syamsuddin saat ditemui di rumah duka Rabu, 12 Juni.
Inilah yang membuat dia ingin dekat ibunya, bahkan saat meninggalkan dunia ini.

George dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dadi. Bukan berarti menolak di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, tetapi ini bukti kecintaan pada ibu.
“Sebelum meninggal, sudah berpesan agar nanti dikebumikan berdampingan dengan ibunya. Tepat di pangkuannya. Karena di TMP sudah ada bapaknya,” ungkap Asri yang sibuk melayani tamu.

Hal lain yang begitu berkesan kata Asri, bagi almarhum adalah Kota Makassar. Bahkan, Makassar dianggap kota yang tak bisa dia lepaskan dari perjalanan hidupnya. Itu dia buktikan, dengan selalu menyempatkan datang ke Makassar.
“Setiap ke kawasan timur Indonesia pasti singgah. Dia itu menyempatkan waktu untuk keluarga. Kalau tidak masuk kota, kita yang ke bandara, beliau sosok paling berwibawa,” jelasnya.

Kepergian George Toisutta untuk selama-lamanya meninggalkan duka mendalam bagi istrinya, Noeralam dan tiga orang anak.
Meski kariernya di militer begitu bersinar, dia tak permah memaksakan kepada anaknya untuk mengikuti jejaknya di dunia kemiliteran. “Dia itu sangat profesional, tidak ada anak-anaknya dipaksa untuk jadi TNI. Kalau di satuan dia TNI, kalau di keluarga lain lagi ceritanya,” sebut lelaki yang mengenakan pakaian putih itu.

Waktu sekolah di SMA Negeri 1 Makassar, anak kedua dari lima bersaudara itu dikenal ramah sekali, suka bercanda dan senang dengan semua teman, serta sangat komunikatif.
Salah seorang teman SMA almarhum, Apiaty Kamaluddin mengatakan, saat bersama-sama di bangku sekolah, almarhum memang dikenal sangat berwibawa. “Saya bersama almarhum di SMA 1 hanya satu tahun,” ujar istri mantan Gubernur Sulsel, Amin Syam ini.

Ya, langit Makassar mendung Rabu sore, 12 Juni. Tenda TNI sepanjang 30 meter berdiri di Jl Rutan, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini. Menanti kedatangan peti jenazah dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Membawa jenderal yang dianggap sebagai senior, guru, dan pelatih.
Karangan bunga dari petinggi TNI hingga purnawirawan sudah berjejer di sepanjang jalan. Ada karangan bunga dari Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, hingga mantan Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Di rumah duka hadir Kabinda Sulsel, Brigjen TNI Wing Handoko dan Kepala Staf Divisi (Kasdiv) Infanteri 3/Kostrad, Brigjen TNI Dwi Darmadi. Jenderal yamg lainnya ikut menjemput di Lanud Sultan Hasanuddin.

Karier jenderal yang lahir di Makassar, 1 Juni 1953 itu di dunia militer begitu komplet. Dari Komandan Peleton (Danton) hingga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Bahkan, lima kali menjabat sebagai panglima. Pangkoops TNI di Aceh, Panglima Divisi-1/Kostrad, Pangdam XVII/Trikora, Pangdam III/Siliwangi, dan Panglima Kostrad.

Apalagi dia jenderal penuh (empat bintang) kedua di Sulsel setelah Jenderal M Jusuf. Memulai sekolah di SMA 1 Makassar pada tahun 1969. Hanya satu tahun. Setelahnya pindah ke Jawa. Tahun 1976 lulus menjadi Akabri.
Pemakaman George berlangsung pada pukul 17.00 Wita. Dari Lanud Sultan Hasanuddin langsung ke TPU Dadi. Tak sempat lagi ke rumah duka. Upacara pemakaman dipimpin oleh Wakasad TNI, Letnan Jenderal TNI Tatang Sulaiman.

Upacara yang diiringi rintik hujan itu dihadiri tiga matra TNI. Perwira menengah (Pamen) TNI, hingga perwira tinggi (Pati) TNI ikut Apel Persada. Dalam keadaan basah kuyup. Penghormatan senjata pertanda jenazah masuk ke liang lahat. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga oleh Wakasad, Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Letjen (Purn) Suryo Prabowo.

Wakasad TNI, Letnan Jenderal TNI Tatang Sulaiman mengatakan, upacara pemakaman secara militer, upacara kebesaran ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan pemerintah atas pengabdiannya kepada bangsa dan negara.
“Kepergiaannya sungguh sangat menyedihkan dan mengagetkan. Namun, harus bisa diterima secara ikhlas karena sudah nenjadi ketetapan dan kehendaknya,” akunya.

Perwakilan keluarga, Letjen TNI (Purn) Burhanuddin Amin mengaku, almarhum lahir di Makassar. Sepanjang karirnya di TNI termasuk menonjol, semua jabatan dari paling rendah sudah dilaluinya. “Mari melepas almarhum ke peristirahatan yang terakhir,” pintanya. (*/arm-rif)