Mahasiswa Kehutanan Unhas Buat Papan Partikel, Perekatnya Pakai Limbah Kulit Udang

1 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Tiga Mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas punya inovasi membuat papan partikel. Uniknya, perekat yang dipakai merupakan limbah kulit udang.

Adapun tiga mahasiswa itu, Nurfahrah Yusuf, Risaldi Wajo, dan Muhammad Ryanmizard Ansari. Mereka di bawah bimbingan Dosen ibu Sahriyanti Saad, M.Si, Ph.D.

Sidang Sengketa Pilpres 2019, Hakim MK Siap Nginap di Kantor

Ketiga mahasiswa itu berasal dari Fakultas Kehutanan. Papan partikel yang menggunakan perekat berbasis formaldehida, tetapi inovasi mahasiswa ini dengan limbah kulit udang.

Nurfahrah Yusuf menjelaskan, perekat yang dibuatnya bisa menjadi perekat papan partikel masa depan. Sebenarnya penelitiannya untuk program kreativitas mahasiswa (PKM) yang yang dibuat oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

“Penelitian kami lakukan pada bulan Maret hingga Juni di laboratorium pengolahan dan pemanfaatan hasil hutan fakultas kehutanan Universitas Hasanuddin,” ujar Mahasiswa Kehutahanan angkatan 2016 ini.

Ada Sinyal Kuat MK Diskualifikasi Gugatan Prabowo-Sandi

Proses Pembuatan papan partikel dimulai dengan membuat perekat dari limbah kulit udang melalui tiga tahap yaitu demineralisasi, deproteinasi, dan destilasi hingga menghasilkan kitosan yang dapat dijadikan sebagai perekat.

Kemudian berkat yang dihasilkan diaplikasikan ke papan partikel dengan cara mencampurkan terkait dengan serbuk gergaji jenis sengon yang kemudian di panas hingga membentuk suatu lembaran papan partikel.

Papan partikel adalah salah satu jenis papan komposit atau kayu tiruan yang dikembangkan untuk menggantikan produk kayu yang menggunakan bahan baku kayu berdiameter besar yang telah berkurang ketersediaannya.

Adik Tidur, Ini Detik-detik Pemuda Begituin Teman Kerjanya

Dalam pembuatan papan partikel di butuhkan agen pengikat berupa perekat untuk menyatukan komponen partikel hingga menjadi papan. Selama ini perekat yang digunakan ialah perekat jenis sintesis berbasis formaldehida dan fenol formaldehida.

Akan tetapi, perekat tersebut memiliki kelemahan yaitu mengandung emisi gas beracun bagi lingkungan dan manusia karena dapat mengganggu kesehatan hingga menyebabkan kanker bila terlalu lama dihirup. “Dari itulah dibutuhkan alternatif pengganti perekat yang tidak ramah lingkungan tersebut,” ungkapnya. (ham)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

1 Komentar

  1. Pingback: Jalan AP Pettarani Banyak Gundukan – MENIT BERITA

Comments are closed.