Pemilu dan Idulfitri

Kamis, 13 Juni 2019 - 07:22 WIB
Saharuddin Daming

Oleh: Saharuddin Daming

Membaca judul tersebut di atas sebagian di antara kita mungkin bingung menemukan relevansinya, mengingat keduanya berasal dari entitas yang sangat berbeda. Namun, jika kita belajar dari teori measures of association maka segala sesuatu dengan tingkat keberbedaan yang paling kompleks sekalipun, selalu mempunyai relasi dan benang merah.

Idulfitri yang umat Islam rayakan pekan lalu merupakan pesta kemenangan yang sukses dalam kompetisi menaklukkan nafsu amarah dan lawwamah demi membangkitkan nafsu muthmainnah selama puasa Ramadan. Sedangkan Pemilu merupakan pesta demokrasi yang melibatkan peserta Pemilu untuk berkompetisi secara sehat, luber dan jurdil dalam meraih dukungan rakyat.

Ditinjau dari aspek tasawuf, Idulfitri tidak lain merupakan puncak penyucian diri yang digembleng oleh auto training puasa selama ramadan menghasilkan kualitas eksistensi pelakunya seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Pemilu yang telah diumumkan hasilnya pada tanggal 21 Mei 2019, pada hakikatnya merupakan manifestasi penyucian demokrasi.

Betapa tidak karena, para wakil rakyat maupun pimpinan Negara, berada pada fase akhir masa jabatannya sehingga hanya melalui Pemilu mereka berjuang keras untuk memperoleh mandat baru dari rakyat. Dengan demikian maka, keberadaannya dalam lembaga pengabdian masing-masing tak ubahnya seperti bayi demokrasi.

Tak dapat disangkal jika Idulfitri merupakan momentum tahunan dalam pendistribusian kepedulian, kasih sayang dan beragam filosofi populisme lainnya. Hal ini tercermin dari kewajiban setiap pribadi muslim untuk menunaikan zakat fitri, maupun zakat mal sesuai syariat. Pemilu juga merupakan momentum 5 tahunan dalam pendistribusian kedaulatan rakyat. Berdasarkan asas vox populi, vox dei, Setiap warga negara yang memenuhi syarat berhak menyalurkan aspirasinya untuk menentukan figur eligible guna duduk di puncak pimpinan eksekutif maupun legislatif.

Idulfitri dalam konsepsi syariat, sesungguhnya merupakan ajang silaturahim sekaligus momentum untuk saling memaafkan yang ditandai dengan saling kunjung sembari menikmati beragam panganan khas Idulfitri yang diramu dan tersaji secara gratis dalam setiap keluarga muslim. Demikian pula Pemilu dalam konteks politik dan hukum ketatanegaraan, pada hakikatnya merupakan ajang penguatan pilar kebangsaan yang ditandai dengan penyajian menu parpol yang beragam program dan platform untuk diuji tingkat elektabilitasnya. Perbedaan pilihan politik, tidak seharusnya kita saling berbenturan dalam friksi dan konfrontasi, tetapi justru merupakan rahmat yang harus disyukuri untuk memupuk kebhinekatunggalikaan kita.

Pada akhirnya kita memahami bahwa substansi dasar kehadiran Idulfitri adalah momentum peningkatan keimanan dan ketaqwaan yang diukur dari amal saleh dan mardhotillah sesuai dengan Q.S. Al-Hujurat ayat 17 memastikan bahwa kemuliaan yang disandang oleh seorang muslim bukanlah pada tumpukan materi dan kedudukan tetapi bertumpu pada kualitas ketaqwaan. Sebaliknya substansi dasar Pemilu momentum meningkatkan derajat kenegarawanan kita yang sering pupus akibat arogansi , egoisme primordialisme sempit dan ekstrem. (*)

One thought on “Pemilu dan Idulfitri

Comments are closed.