Tim Ahli IAIM Sinjai Paparkan Konsep Pengembangan Panrita Kitta


FAJAR.CO.ID, SINJAI — Tiga tim ahli dari Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai memaparkan konsep pengembangan Panrita Kitta. Konsep awal itu disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sinjai.Tiga tim ahli tersebut yakni Dr Ismail, Dr Hardianto Rahman, dan Dr Muh Anis. Dalam penjelasannya, Dr Muh Anis menyampaikan beberapa indikator panrita kitta.Di antaranya, M Ide Said DM dalam kamus Bugis-Indonesia, panrita berarti orang yang memiliki keahlian teknis, ulama. Dalam kamus Bugis-Belanda yang disusun oleh B.F. Mattes, Panrita memiliki dua arti yakni terpelajar, sarjana, ilmuwan (geleerd) dan Arsitek (Bouwmeester).Selain itu, dalam “The Bugis” Cristian Pelras menjelaskan bahwa istilah “panrita berasal dari bahasa Sansekerta, “Pandita”; Pendeta/Pertapa yakni orang yang mengetahui seluk beluk agama, bijaksana, shaleh, dan jujur.Lebih lanjut, Pelras menjelaskan bahwa setelah penerimaan Islam maka konsep ideal seorang arung, pemimpin, pemerintah harus memiliki 4 kualifikasi yakni: panrita (saleh dan visioner), barani, macca, sugi.Dekan Fakultas Ekonomi dan Hukum Islam (FEHI) IAIM Sinjai ini juga menyampaikan pandangan Mochtar Pabottingi secara luas bahwa panrita atau topanrita adalah orang yang bersaksi, melihat dan menyimak atas suatu keadaan dan menyatakan keadaan sebenarnya.Panrita merupakan sosok pengamat yang obyektif, menilai, kritis, dan mampu memberi pertimbangan atas keadaan. Singkatnya Panrita adalah cendekiawan.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar