Manfaatkan Ampas Rumput Laut, Mahasiswa Unhas Buat Bioplastik Ramah Lingkungan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Mahasiswa Unhas membuat bioplastik ramah lingkungan. Bahannya dari ampas rumput laut dan limbah serbuk kayu.

Tim mahasiswa Kehutanan Universitas Hasanuddin itu yakni, Indra Yuliana, Andi Bau Rezky Wahyuni Ardam dan Fahira Nurul Amalia. Mereka dibimbing oleh Dr.Suhasman, S.Hut, M.Si melakukan penelitian bioplastik yang memanfaatkan limbah serbuk kayu dan ampas rumput laut yang telah didanai oleh Tanoto Student Research Award.

“Kami berharap, bioplastik ini dapat menjadi salah satu solusi dalam menanggulangan pencemaran lingkungan akibat plastik yang sulit untuk terurai,” ujar Indra Yuliana.

Menurut Mahasiswa Kehutanan Unhas ini, produk plastik telah menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan, sehingga dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Sejak terknologi pembuatan plastik sintesis ditemukan pada tahun 1907 arau 112 tahun yang lalu, pemanfaatan plastik berkembang luar biasa akibat sifatnya yang serbaguna dan karakteristiknya yang istimewa.

Namun, plastik ini tidak dapat terurai dengan cepat sehingga menyebabkan penumpukkan dan penimbunan limbah plastik dalam jumlah yang besar.

“Hal ini dapat menyebabkan pencemaran dan kerusakan bagi lingkungan karena plastik membutuhkan waktu 100 sampai 500 tahun dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna,” ujarnya.

Oleh sebab itu, diperlukan penanganan dan salah satunya adalah penggunaan produk plastik yang mudah terurai oleh mikroorganisme dalam waktu singkat (biodegradable atau bioplastik).

Bioplastik tidak menghasilkan senyawa yang berbahaya apabila ditimbun atau dibakar, sehingga bioplastik dapat meningkatkan kualitas tanah karena hasil penguraian mikroorganisme dapat meningkatkan unsur hara dalam tanah.

Bahan dasar pembuatan bioplastik yang ramah lingkungan dapat menggunakan tumbuhan yang mengandung pati atau selulosa seperti umbi-umbian.

Namun, tanaman ini merupakan salah satu bahan pangan oleh masyarakat Indonesia sehingga ketersediaannya terbatas untuk pemanfaatan lain. Dengan kondisi demikian, dibutuhkan bahan dasar bioplastik yang memiliki ketersediaan melimpah dengan jumlah yang tidak terbatas. (ham)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...