Mengenal Tahapan Rehabilitasi Narkotika

Jumat, 14 Juni 2019 - 08:28 WIB
Muhammad Hatta. (ist)

Oleh: Muhammad Hatta (Dokter Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar)

Saat ini terdapat kurang lebih 700 pusat rehabilitasi narkotika di seluruh Indonesia. Dimana 90 persen diantaranya merupakan Institusi Penerima Rawat Jalan(IPWL). IPWL sendiri dapat berbentuk rumah sakit(RS), Puskesmas, Klinik Mandiri, dan panti sosial.

Walau berjumlah ratusan, hanya 15.263 pecandu yang berhasil direhabilitasi tahun lalu (JPNNews, 20/12/18). Tempat rehabilitasi narkotika pun belum “bergaung” di telinga masyarakat. Riset BNN mengungkap, hanya sebagian masyarakat (49 persen) yang mengetahui keberadaan tempat rehabilitasi di wilayahnya.

Mayoritas masih beranggapan proses rehabilitasi hanya sekadar pemberian obat-obatan medis tatkala pecandu tengah withdrawl/sakaw. (BNN, 2018). Padahal proses rehabilitasi tak sekadar pemberian obat-obatan medis ketika pecandu tengah withdrawl/sakaw, melainkan juga mekanisme psikoterapi, perubahan perilaku dan bimbingan religi.

Proses rehabilitasi dimulai dengan asesmen medis mempergunakan alat tes yang dinamakan Addict Severity Index (ASI). Tes ini berguna dalam menentukan metode terapi yang dibutuhkan klien nantinya. Jika memenuhi syarat, ia akan mengikuti program detoksifikasi dan abstinen (berpantang zat) selama kurang lebih dua minggu. Periode tersebut diawasi secara ketat oleh tenaga medis, psikolog dan konselor guna meminimalisir gejala putus obat (withdrawl) yang biasa dialami. Jika ringan, penyalahguna akan diarahkan untuk berobat jalan sembari mengikuti sesi psikoterapi yang dilakukan 1-2 kali dalam seminggu (8 sesi).

Tahapan selanjutnya adalah fase Entry Unit, di mana residen mulai diperkenalkan dengan terapi perubahan perilaku. Pada fase ini mereka berinteraksi dengan sesama pengguna melalui sesi terapi berkelompok, adaptasi perubahan kesadaran tentang dampak buruk narkoba, serta intervensi psikis oleh para psikolog. Di fase yang sama, psikolog pun mulai menggunakan teknik-teknik motivasi individu agar residen terdorong untuk meminimalisir keinginan untuk kembali memakai narkoba. Pada beberapa kasus yang tergolong berat, diperlukan tambahan metode Cognitive Behavioural Therapy (CBT) untuk mendorong proses perubahan.

Fase ketiga adalah tahap residen mulai mengikuti program inti rehabilitasi yang disebut sebagai fase primary. Di sini klien diperkenalkan dengan metode “dua belas langkah” dalam konsep terapi komunitas (Therapy Community-TC). TC merupakan metode terstruktur guna mengubah perilaku manusia dalam lingkup komunitas dewasa yang bertanggung jawab (Hayton,1988).

Konsep yang ditemukan di Amerika Serikat dan digunakan mayoritas negara-negara terdampak narkoba ini diklaim memiliki tingkat keberhasilan 80 persen, dengan catatan yang bersangkutan menyelesaikan proses secara lengkap (UNODC, 1990). Motto TC adalah “Man helping man to help himself” yang bermakna peserta program TC bertanggung jawab untuk saling tolong menolong satu sama lain sekaligus memulihkan diri sendiri dari ketergantungan akan narkotika.

TC memiliki tiga program yang bersinergi satu sama lain dan berjalan secara simultan. Yang pertama adalah program pembentukan tingkah laku (behaviour management shaping), dimana residen mengelola kembali tujuan hidup masing-masing agar terbentuk perilaku yang sesuai norma-norma yang ada di masyarakat umum. Kedua adalah program pengendalian emosi dan psikologi (anger management), dimana residen diajarkan teknik-teknik psikologis yang bersifat life skills. Teknik tersebut berupa manajemen konflik, pengendalian diri, teknik menghindar dari pergaulan atau komunitas terdampak narkoba serta resolusi emosi personal.

Ketiga adalah program pengembangan pemikiran dan kerohanian (intelectual and spiritual shaping). Residen diarahkan untuk mengembangkan wawasan pengetahuan dan nilai-nilai spiritual agar mampu menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan kehidupan. Program ini juga bertujuan memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah residen sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

Fase terakhir rehabilitasi pecandu dinamakan tahap Re-Entry. Residen dipersiapkan untuk masuk kembali ke dalam kehidupan masyarakat umum. Mereka mulai diperkenalkan dan dilatih keterampilan kerja dan sosial (vocational training) agar dapat berfungsi kembali layaknya anggota masyarakat biasa. Residen juga diajarkan proses readaptasi kehidupan sehari-hari agar mereka tak canggung sekeluar dari pusat rehabilitasi. Fase ini bisa berlanjut pada Rumah-Rumah Damping milik pemerintah dan swasta, sehingga biasa dikenal sebagai tahapan paska rehabilitasi.

Masih kurangnya model layanan rehabilitasi komprehensif berbasis rawat inap seperti di atas masih menjadi hambatan perluasan cakupan pecandu yang ingin dirawat. BNN misalnya, hingga tahun 2019 ini hanya memiliki enam Balai/Loka Rehabilitasi di seluruh Indonesia (Bogor, Makassar, Samarinda, Deli Serdang, Lampung, dan Batam).

Ditambah belum adanya standar yang seragam dan berlaku nasional. Laporan Ombudsman RI menyebutkan, tiadanya metode standar rehabilitasi narkotika yang berlaku seragam di semua fasilitas layanan sebagai biang keladi carut marut dunia rehabilitasi kita (Kompas, 28/7/2017). Padahal ia dibutuhkan guna menjamin para pecandu mendapatkan tingkat layanan profesional guna menjamin kualitas luaran yang dihasilkan. Inilah pekerjaan rumah sesungguhnya bagi insan penggiat program rehabilitasi narkotika. (*)