Mereka di Balik Pakaian Kondobuleng, Makin Semangat di Usia Emas

Jumat, 14 Juni 2019 - 10:56 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sering menyaksikan tarian kondobuleng. Tetapi, banyak yang tidak tahu siapa pemeran utamanya.

“DAENG camummu, daeng camummu. Daeng camummu, daeng camummu. Napassurowiko dangnga. Mannosoka gaja”

“Teya ri dannga makanang tonja. Manynyoweyang sangko papa. Mapale tonja, mattakkang bulo silasa”

Begitu sepenggal sajak berjudul Daeng Cammu yang dimainkan penyair teater tradisonal kondobuleng, Usman Majid saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakukang, Senin, 3 Juni.

Iramanya terdengar merdu di rongga telinga. Badan dibuatnya ikut tergerak. Lenggak lenggok.

Singkat cerita, disampaikanlah syair penutup berjudul Mala-Mala Hatte, dalam kondobuleng (bangau putih). “Ini semacam doa, di mana ending cerita, kondobuleng dibangkitkan kembali setelah tertembak oleh paccala (penembak),” katanya.

Tatapannya lurus ke depan. Lalu perlahan menyampaikan kondobuleng terbang dalam teater yang masih dimainkan sampai saat ini.

“Saya mulai pentas pada 1994. Saat itu menjadi pemeran utama, sebagai kondobuleng (bangau putih),” ungkap Pendiri Sanggar Remaja Paropo itu, sembari melempar senyum.

Sampai saat ini peran itu masih dimainkannya. Tetapi, tak semua pentas lagi. Terkadang ia digantikan adiknya bernama Sudirman, dan anggota sanggar, Yahya.

Alasannya, kesiapan persil terkadang jadi kendala. “Jadi saya kadang yang jadi pemusiknya, atau penyairnya. Kami gantian saja, disesuaikan berdasarkan kesiapan pemain,” beber pria berusia 50 tahun ini.

Pria berusia emas ini sebenarnya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Universitas Hasanuddin (Unhas) Fakultas Teknik. Ia bekerja sebagai staf administrasi, sejak 2001.

Sementara adiknya, Sudirman, bekerja sebagai cleaning service di Unhas Fakultas Sastra. Di balik kesibukan ini, tak ada kata berhenti untuk menjadi pemeran kondobuleng.

Niatnya hanya satu. Melestarikan budaya sendiri. Meski ia menyadari, ada berbagai versi cerita yang terkandung dalam kondobuleng, berhenti karena itu, bukan lah solusi.

Prinsip dasar teater menurutnya, hiburan. Sehingga, apa yang baik dari masa lalu harus dipelihara dengan baik. Makanya, setiap pentas modern, kondobuleng harus tampil sebagai bentuk aktualisasinya.

“Alhamdulillah, terakhir festival teater se-Indonesia di Institute Kesenian Jakarta (IKJ), kami juara dua tingkat provinsi, membawa nama Sulsel,” tuturnya.

Usman yang menjadi pemeran utama saat itu. Sementara lainnya, ada yang berperan sebagai paccala, dan musisi.

“Tak ada ritual khusus. Hanya perlu latihan saja. Sisa menyesuaikan naskah, sesuai situasi pentas. Biasanya durasi waktunya yang diatur, mau cepat atau lambat,” jelasnya.

Teater ini biasanya dimainkan dalam kegiatan perkawinan, khitanan, dan kegiatan lainnya. Undangan untuk memainkannya pun masih ada sampai saat ini.

Dalam waktu dekat ini bebernya, akan ada pentas di Athira. Mereka akan tampil. Sudirman yang bakal menjadi pemeran utamanya. “Saya harus melatih, jadi kalau bukan Sudirman, Pak Yahya yang yang jadi kondobuleng,” imbuhnya.

Kalau versi cerita yang dia dengar, tempat mandi kondobuleng berada di Kampung Batu Leccu, Kecamatana Panakukang, sementara tempat nginapnya di Anak Bulo (depan kantor gubernuran).

Sudirman sendiri tak perlu lagi membaca naskah kondobuleng. Terkadang, aksi tambahan dilakukan di atas panggung. Sebab, puluhan tahun teater ini dimainkan.

“Apakah saat berperan sebagai kodobuleng atau pacca bisa dikatakan di luar kepala. Meski begitu latihan tetap dilakukan, kalau pekerjaan sudah selesai,” katanya.

Begitulah kedua bersaudara itu melestarikan budaya. Tak berhenti menghibur, meski ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. (*/abg)

Laporan: Rudiansyah