Wabah

Jumat, 14 Juni 2019 - 08:42 WIB
Muhammad Khidri Alwi. (ist)

Oleh: Kidry Alwi

Wabah, inilah pintu kematian yang banyak menelan korban manusia ketika penyakit menyebar. Sepanjang millenium kehidupan manusia, jutaan korban terhempas dalam kuburan akibat wabah penyakit. Wabah adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar tersebut.

Sejarah bercerita ketika wabah penyakit smallpox yang menyebar dibawah oleh Fransisco de Egula pada 5 Maret 1520 menyebar di Kota Cempoallan. Dalam 10 hari wabah cacar kemudian menyebar dan kota itu menjadi lahan kuburan. Pada tahun 1778, Kapten James Cook memasuki Hawai dan memperkenalkan wabah tuberculosis (Tbc) dan Sifilis. Disusul pendatang Eropa memperkenalkan tifus dan cacar.

Penduduk Hawai yang berjumlah setengah juta ketika wabah ini menyebar, yang  sisa 70.000 jiwa pada tahun 1853. Pada Januari 1912, ribuan bala tentara di parit-parit timur mati berkelimpangan akibat flu Spanyol. Wabah ini kemudian meluas dan menewaskan 40 sampai 50 juta dalam setahun (Harari, 2019). Belum cukup sampai di situ, wabah terus membawa kematian yang mengerikan disepanjang dekade manusia dalam melawan penyebaran kuman. Masih ada ratusan cerita serupa manusia menjadi mangsa dari wabah penyakit menular.

Wabah tidak lagi sekadar penyebaran penyakit yang dulu diistilahkan sebagai kejadian epidemi, yang timbul sebagai kasus baru dari suatu penyakit pada suatu populasi tertentu manusia, dalam suatu periode waktu tertentu, dengan laju yang melampaui laju ekspektasi (dugaan). Wabah bisa juga berupa hal-hal yang dapat menyusahkan dan menganggu kehidupan manusia secara masif.

Manusia modern sekarang tidak lagi terlalu dirisaukan dengan adanya wabah penyakit karena kemajuan ilmu kedokteran, vaksinasi yang merata, antibiotik mumpuni dan infrastruktur medis yang lebih baik. Yang menjadi hantu wabah yang lebih menakutkan sekarang adalah wabah penyebaran hoaks, fitnah keji, dan ujaran kebencian. Di era posttruth, literasi media dan literasi digital  banyak memberi kemudahan dan keasyikan dalam berkomunikasi.

Namun, terlepas dari kemudahan yang diberikan informasi digital, kita juga tanpa sadar akan efek kebablasan yang ditimbulkannya. Di sini, kitapun hampir tidak menyadari lagi nilai dan kode etik santun berbatas sangat halus dengan berita-berita yang berkonten hoaks menyeruak masuk dalam narasi akal sadar kita lewat medsos. Yang absurd, nilai itu nyaris melanda semua golongan manusia, entah itu dia orang bodoh, ndeso atau pintar dan merasa manusia modern. Terpesona dengan berita-berita hoaks.

Epidemi hoaks inilah, wabah yang sangat mematikan hati nurani manusia, mengacaukan rasionaloitas, tatanan nilai dan kesantunan publik. Wabah ini bergerak liar tidak terkendali, menyerang kalangan terdidik, serta menerjang tatanan sosial dan nilai yang sudah mapan. Jika wabah penyakit pernah membunuh puluhan, bahkan ratusan juta manusia sepanjang abad, maka wabah hoaks dalam sekejap dapat membunuh miliaran manusia dengan wabah kematiannya kemanusiaan kita yang fitrah ini. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujarat/49: 6). Wallahu ‘alam.