Gunakan Bahan Ini, Mahasiswa Unhas Teliti Bahan Alami sebagai Pewarna Kain

Sabtu, 15 Juni 2019 - 10:10 WIB
MENARIK. (Dari kiri), Nur Fahrah Yusuf, Syahidah (dosen pembimbing), Ainun Salsabila, dan Ainun Arung memperlihatkan kain yang sudah diwarnai menggunakan pewarna alami, di Fakultas Kehutanan Unhas.ANDI NUR ISMAN/FAJAR

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Daun pacar kuku, kayu secang, dan kulit buah naga ternyata bisa digunakan sebagai pewarna kain. Tiga mahasiswa Universitas Hasanudin (Unhas) meneliti ketiga bahan alami ini.

Mereka adalah Ainun Salsabila, Nur Fahrah Yusuf, dan Ainun Arung. Ketiganya merupakan mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas. Riset berjudul “Eksplorasi Pewarna Sutra Alami Ramah Lingkungan Berbasis Biomassa” ini berhasil lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti.

Ketua tim, Ainun Salsabila mengungkapkan, kain yang digunakan dalam penelitian ini adalah sutra. Kain itu dipilih karena merupakan salah satu kearifan lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu, jika diberi pewarna, kain ini cukup mudah untuk menyerap.

Warna yang dihasilkan dari ketiga bahan alami itu memang tidak begitu terang, namun tetap nyaman dipandang. Hasilnya lebih mengarah ke warna pastel atau warna muda.

Untuk menghasilkan warna yang lebih baik, kainnya dilarutkan ke larutan fixer. Setelah dicelup, tidak langsung dikeringkan.

“Larutan fixer yang kita pakai itu tawas dengan konsentrasi 10 persen,” jelasnya, saat ditemui di Fakultas Kehutanan Unhas, baru-baru ini.

Sebenarnya, kata dia, ada banyak bahan alami lainnya yang bisa digunakan sebagai pewarna kain. Hanya saja, karena mereka berasal dari fakultas kehutanan, maka sampel yang mereka pilih pun adalah bahan yang paling dekat dengan bidang ilmu mereka.

“Daun pacar kuku itu menghasilkan warna kunig, kayu seppang (secang) menghasilkan warna dusty pink, sedangkan kulit buah naga menghasilkan warna baby pink,” sebut mahasiswa angkatan 2016 itu.

Kain dengan pewarna alami seperti ini punya beragam manfaat. Salah satu yang akan paling berpengaruh yaitu mengurangi pencemaran lingkungan.

“Kalau pewarna sintesis dia mengandung racun yang bisa menyebabkan kanker. Kalau ini kan betul-betul dari alam dan tidak ada campuran dari bahan kimia. Selain ramah lingkungan dia mudah untuk diperoleh,” ucapnya.

Dosen pembimbing, Syahidah, Ph.D. menambahkan, saat ini hasil penelitian itu sementara dalam tahap pengujian di Balai Besar Tekstil. Menurutnya, jika penelitian ini bisa berlanjut maka bahan-bahan alami itu akan ditanam dan dibudidayakan oleh masyarakat.

“Sekarang konsumen dari eropa sangat konsen ke lingkungan. Itu isu yang sangat penting saat ini. Jadi termasuk pewarna pakaian tidak tolerir lagi yang menggunakan sintesis,” tandasnya.(ism/lin)