Kredit Perbankan Diprediksi Stagnan, Perbaikan Ekonomi Tanpa Optimisme

Sabtu, 15 Juni 2019 - 21:29 WIB
ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah memperkirakan penyaluran kredit perbankan pada tahun depan tumbuh berkisar 12-14 persen. Tahun lalu, kredit perbankan tumbuh sebesar 12,9 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, melihat proyeksi tersebut terlalu semangat tanpa melihat indikator-indikator lainnya yang saat ini tengah terjadi.

“Menurut saya, target tersebut terlalu optimis mengingat prakiraan indeks lending standard triwulan II-2019 sebesar 12,4 persen, lebih rendah dibandingkan dengan 13,6 persen pada triwulan sebelumnya,” ujar Tauhid Ahmad kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (14/6).

Lanjut Tauhid, hal ini mengindikasikan kondisi perekonomian yang belum begitu menggembirakan pada tahun 2019 dan berlanjut pada 2020.

Apalagi, kata dia, survei perbankan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit pada 2019 akan mencapai 11,6 persen.

“Ini artinya secara keseluruhan kalangan perbankan belum optimis ekonomi semakin membaik,” ucap dia.

Oleh karena itu, Tauhid, memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan akan tetap berada pada level 11-12 persen. Menurut dia, hal ini bisa dilihat dari sektor riil pada tahun 2020 yang masih dibayangi perekonomian yang sulit, melemahnya investasi serta ekspor yang menurun.

“Di samping penurunan permintaan yang terjadi secara global maupun harga komoditas yang masih rendah,” tutur Tauhid.

Untuk aset perbankan, Tauhid tidak yakin akan sesuai target pemerintah sebeasr 13-15 persen di 2020. “Prediksi aset perbankan ini jauh sekali dari realisasi dalam empat tahun terakhir,” kata Tauhid.

Seperti diketahui aset perbankan dalam periode 2015-2018, rata-rata tumbuh hanya 9,48 persen. Aset perbankan sangat tergantung pula dari sumber Dana Pihak Ketiga (DKP) yang pertumbuhannya jauh lebih kecil dibawah 9 persen.

“karena itu sangat tidak mungkin aset tumbuh 13-15 persen di 2020. Apalagi karena tingkat suku bunga cenderung akan turun pada rapat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGI) dan tidak likuid-nya instrumen di sektor perbankan dibandingkan jenis investasi lainnya,” papar Tauhid.

Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan angka pertumbuhan kredit perbankan masih tumbuh double digit sebesar 12-14 persen di tahun 2020.

“Asumsi pertumbuhan kredit pada tahun 2020 mendatang pada kisaran 12 persen hingga 14 persen” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso di Jakarta, Kamis (12/6).

Dia juga memproyeksikan DKP perbankan masih akan tumbuh di ksiaran 10-12 persen. Dengan begitu, likuiditas perbankan pun diharap masih dapat longgar.

Begitupun dia juga memprediksi pertumbuhan aset dapat mencapai 13-15 persen pada 2020. Sementara untuk industri asuransi jiwa diprediksi masih tumbuh 10-11 persen.

“Sementara untuk industri asuransi umum diprediksi dapat tumbuh 15 persen hingga 17 persen,” ucapnya.

Hal itu seperti yang diinginkan Menteri Keuangan (Kemenkeu), Sri Mulyani. Dengan catatan, asalkan tingginya eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tidak berdampak pada industri perbankan Indonesia.

Saat ini, pertumbuhan ekspor global tercatat mengalami penuruan akibat imbas ketidakpastian perang dagang antara dua negara besar tersebut. Termasuk Indonesia terkena dampaknya. (din/fin)