Paparkan Ide Kacamata 3D di Jerman

Sabtu, 15 Juni 2019 - 07:07 WIB
TEKNOLOGI. Irwan Ardiansyah, mahasiswa asal Kabupaten Pangkep saat mengikuti pekan mahasiswa internasional di Jerman, Mei lalu. Dia ingin mengembangkan kebudayaan lewat teknologi virtual reality. (HANDOVER)

Caranya melestarikan kebudayaan berbeda. Irwan Ardiansyah sedang merancang pelestarian lewat teknologi virtual reality.

LAPORAN: SAKINAH FITRIANTY, Pangkep

Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) asal Kabupaten Pangkep itu baru saja pulang dari Jerman. Selama satu pekan pada Ramadan lalu.
Bukan untuk liburan. Dia mengikuti International Student Week. Semacam pekan mahasiswa internasional. Pesertanya puluhan mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

Di forum ini, mahasiswa semester enam Teknik Informatika UMI itu menawarkan cara berbeda pelestarian kebudayaan. Bukan hanya melalui promosi seperti yang kerap pemerintah daerah lakukan.
Saat FAJAR menemui di kediamannya di Kecamatan Bungoro, Pangkep, Irwan mengemukakan alasan mengangkat pelestarian kebudayaan sebagai karya yang sementara dirancang saat ini.

“Budaya itu perlu dilestarikan. Agar tetap terjaga. Sebenarnya banyak media yang dapat digunakan untuk mengangkat promosi kebudayaan,” paparnya.
Namun, dia mengaku menemukan pelestarian yang menggunakan teknologi tiga dimensi (3D). “Saya mencoba merancang saya mencoba merancang alat yang dapat digunakan dengan suasana yang tampak nyata,” bebernya.

Anak kedua dari lima bersaudara ini menjelaskan, keutamaan alat yang dibuatnya berupa kacamata 3D. Objek-objek wisata yang biasanya terdapat dalam buku panduan pariwisata daerah, semakin terlihat jelas saat menggunakan kacamata 3D. Teknologinya virtual reality (VR).
“Saat menggunakan kacamata ini, memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan objek imajinasi yang dimaksud,” tuturnya.

Kacamata 3D, katanya, membawa penggunanya masuk ke dalam suasana aslinya. Seperti di film-film. Iwan mengatakan, dirinya menjadi satu-satunya mahasiswa asal Indonesia Timur yang menghadiri event internasional yang berlangsung di kota Ilmenau, Jerman.
Hingga saat ini, ia masih mengumpulkan bahan untuk menyelesaikan kacamata 3D yang dibuatnya. Objek kebudayaan yang bakal ditampilkan pada kacamata 3D berupa video dokumenter kebudayaan Bugis, Toraja, dan Makassar.

“Kebudayaan kita harus lebih terkenal lagi dan mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya menggunakan teknologi,” ujarnya.
Dia juga akan mengambil beberapa objek-objek wisata dan kebudayaan di Kabupaten Pangkep. Banyak yang bisa dikembangkan di Pangkep,” jelasnya.
Alumni SMK Bungoro ini menyampaikan dirinya membutuhkan waktu dua bulan untuk merampungkan pembuatan kacamata 3D yang berisi kebudayaan Bugis, Makassar dan Toraja ini.

“Ini juga masuk dalam program pengembangan kemahasiswaan di kampus. Jadi tidak terlepas juga dari arahan dan masukan dosen,” katanya.
Esai yang ditulisnya terkait pelestarian kebudayaan lewat teknologi itu dipilih dari 2.000 esai. Gagasannya masuk dalam 20 besar esai terbaik.
Adapun 20 mahasiswa tersebut di antaranya berasal dari

UGM, UI, UMI, University of Edinburgh (UK), Chalmers University of Technology (Sweden), National Research University Higher School of Economics (Rusia) dan Universitas Sanata Dharma.
Walaupun sukses pada forum internasional dengan gagasan pelestarian kebudayaan yang ditawarkan, Iwan punya pengalaman tersendiri saat hendak berangkat ke Jerman. Dia memaparkan idenya dengan biaya yang pas-pasan.