Museumku Sayang Museumku Malang

Minggu, 16 Juni 2019 - 10:59 WIB
Benteng Somba Opu

Liburan di tempat wisata jadi moment yang dinanti. Melihat peninggalan sejarah hingga bermain wahana air salah satunya.

DEWI SARTIKA MAHMUD

Makassar

Liburan, suatu masa di mana orang-orang meluangkan waktu yang bebas dari pekerjaan atau rutinitas.

Sekadar istirahat di rumah, jalan-jalan di mal atau berwisata di alam terbuka adalah pilihan liburan. Tak jarang kebanyakan memilih berlibur ke tempat wisata tersebut.

Akan tetapi, seiiring kemajuan sarana dan prasarana, masyarakat sudah sangat jarang yang mengunjungi tempat-tempat wisata budaya seperti museum.

Padahal, Sulawesi Selatan memberikan peninggalan wisata budaya yang cukup banyak. Benteng Somba opu salah satunya.

Letaknya di tengah-tengah perbatasan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, tepatnya di Jl Daeng Tata Makassar.

Pemandangan keberagaman suku dan budaya yang ada di Sulsel, bisa didapat di sana. Pengunjung yang datang bisa belajar mengenal suku di Sulsel dengan melihat beberapa rumah adat daerah Sulsel.

Tak jarang, pengunjung yang datang mengabadikan moment lewat gawai. Jika ada turis yang datang, mereka rata-rata berfoto di sana. Pastinya akan diupload di sosial media dan diperlihatkan ke seluruh dunia.

Rumah adat Toraja paling diminati. Tanduk kerbau yang diselipkan di bagian atap menjadi satu daya tarik. Namun sayang, keindahan yang memperlihatkan beragam suku dan budaya ini seperti mulai tak menarik perhatian pemuda zaman now.

Mungkin saja kurang menarik di mata mereka. Lalu apa yang harus dilakukan? Perbaikan fasilitas? Penyediaan sarana umum berteknologi tinggi? Atau wifi gratis di lokasi museum?

Tim Ahli Bidang Kebudayaan Disbudpar Sulsel, Prof Andi Ima Kesuma, mengatakan, Benteng Somba Opu ini sebagai tempat sejarah dan peninggalan tempo dulu. Selain kebudayaan dan adat Sulsel, peninggalan Belanda juga dapat dilihat.

Adanya satu ruangan museum di lokasi Benteng Sombaopu yang memperlihatkan museum dan satu bangunan berbentuk model Belanda adalah tanda bahwa Sulsel pernah didatangi oleh bangsa berkulit putih tersebut.

Akan tetapi, lanjutnya, masih sangat kurang yang mau mengetahui kisah dan sejarah tersebut. Jika dilihat yang datang tak sebanyak pengunjung di mal, hanya hari-hari tertentu saja.

“Itu pun ketika ada acara kampus atau sekolah yang melakukan kegiatan studi tour. Barulah Benteng Somba Opu ramai,” tambah Dosen UNM ini.

Benteng Somba Opu ku sayang, Benteng Somba Opu ku malang. Akankah masih bisa dinikmati anak cucu kelak? Ataukah hanya tinggal cerita? (*)