Tinggalkan Perusahaan Multinasional dan Bangun Usaha Sendiri

0 Komentar

Tinggalkan Perusahaan Multinasional dan Bangun Usaha Sendiri Mampu beradaptasi jadi kunci sukses. Tak lupa untuk berbagi apa saja. Pun menghargai jerih payah karyawan.

LAPORAN: Muhclis Abduh, MAKASSAR

Memulai usaha di tanah rantau memang tak mudah. Butuh kerja keras dan keuletan. Dua pria asal Sulsel, Ahmad Kudus dan Masrur merasakan itu. Berbagai jenis usaha telah mereka jalani demi sukses di perantauan.
Pada 2005 silam, Ahmad bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan asing. Dia ditempatkan di Papua Barat. Setelah memasuki tahun 2008, memutuskan berhenti dan memulai usaha sendiri.

Semenjak 2008 itu, ia mendirikan sebuah perusahaan sendiri bernama PT Spektrum. Awalnya agak sulit, namun lama kelamaan ia bisa menyesuaikan diri dengan kerasnya lingkungan kerja.
”Setiap daerah tentu beda karakternya. Orang Papua sudah kita kenal keras, sehingga kita harus bisa menyesuaikan diri untuk bisa diterima,” tutur pria kelahiran Palopo, 8 juli 1981 ini.

Sarjana lulusan Fakultas Teknik Unhas ini mengungkap alasannya memilih sebagai kontraktor. Selain sesuai bidang keilmuannya, juga sesuai dengan kebutuhan daerah setempat.
”Kita sudah paham bahwa di tanah Papua sedang gencar pembangunan. Ada sekolah, perumahan, dan gedung-gedung bisnis dibangun. Ini menjadi peluang untuk terlibat,” paparnya.

Ia juga menyadari dari sisi persaingan, usaha sebagai kontraktor juga masih cukup bagus. Selama ini, pekerjaan dilakukan secara lelang. Sehingga yang terpilih memang punya kemampuan dan kualitas.
Selain sebagai kontraktor, ayah dari tiga anak ini juga menggeluti bisnis rumah makan. Bagi Ahmad, bisnis kuliner merupakan jenis bisnis yang cukup potensial, sebab menjadi kebutuhan utama.

”Tetapi tentu kualitas makanan juga harus yang terbaik agar konsumen bisa terus ingat rumah makan kita,” tegasnya. Dia mengaku cukup terbantu di perantauan. Komunitas masyarakat Sulsel atau Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) sudah lama ada dan banyak membantu. Ini membuat ia cukup cepat bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri.

“Sudah ada yang lebih dulu di sana (Manokwari) maka saya meminta nasihat mereka. Apa saja yang harus saya lakukan untuk bisa bertahan,” ujar sekretaris umum KKSS Papua Barat ini.

Kisah lain yang bisa memberikan inspirasi dalam berusaha datang dari Masrur Makmur La Tanro. Masrur mengawali karier di dunia usaha money changer.
Pada tahun 1989, ia dipercaya menjadi Area Manager La Tunrung di Bali. Lama kelamaan ia pun mulai paham seputar money changer dan mendirikan usaha sendiri bernama PT Bali Maspintjinra Autorized Money Changer (BMC).

Masrur menyampaikan, dalam proses yang panjang yang ia jalani, ia senantiasa menerapkan prinsip untuk senantiasa dekat dengan semua orang tanpa membeda-bedakan. Alasannya pemilik Ponpes Shohwatul Is’ad ini, semua orang menjadi berkah. ”Rezeki kita kadang ada di orang lain. Makanya penting untuk menjaga hubungan antarsesama,” imbuhnya.

Soal tips dalam berusaha, ia memaparkan pentingnya bagi seorang pengusaha menanamkan rasa kepemilikan dari setiap karyawan atau pegawai. Juga memberikan penghargaan bagi karyawan yang berprestasi. ”Kunci sukses kita juga itu karyawan. Hargai jerih payah mereka sehingga mereka bekerja yang terbaik bagi kita,” tegasnya.

Ia juga mengimbau agar tidak menutup kesempatan jika memang ada karyawan yang ingin berusaha sendiri. Memandu mereka dengan memberikan bantuan berupa pikiran, SDM bahkan dalam bentuk dana. ”Semakin banyak kita menolong orang memulai usaha, maka ilmu yang kita ajarkan juga menjadi bertambah dan bermanfaat bagi diri sendiri juga,” imbuhnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...