Dataran Tinggi Golan Berubah Nama Jadi Dataran Tinggi Trump

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PALESTINA — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu resmi menamai permukiman di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan sesuai nama Presiden AS Donald Trump.

Dalam upacara peresmian seperti dilaporkan BBC Minggu (16/6/2019), Netanyahu menamai permukiman itu sebagai “Dataran Tinggi Trump” sebagai bentuk penghormatan. Meski begitu, Netanyahu baru memperkenalkan tanda dengan nama Trump serta bendera Israel dan AS. Pengerjaan pembagunan dilaporkan belum dilaksanakan.

Kritik pun berhembus dengan menyatakan peresmian itu hanya merupakan aksi publisitas tanpa didasarkan pada otoritas berdasarkan peraturan yang berlaku. Israel merebut Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari 1967. Maret lalu, AS mengakui kedaulatan Israel atas wilayah itu sejak secara efektif mendudukinya pada 1981.

“Ini adalah hari yang bersejarah,” ujar Netanyahu dalam upacara pembukaan seraya menyebut presiden ke-45 dalam sejarah AS itu sebagai “rekan baik Israel”. Duta Besar AS untuk Israel David Friedman yang menghadiri peresmian penamaan itu mengatakan permukiman tersebut “layak tetapi sangatlah dihargai”.

Netanyahu sudah menyatakan bakal menyematkan nama Trump pada permukiman baru itu sejak sang presiden mengakui kedaulatan Israel atas Golan sebelumnya.
Region tersebut berlokasi sekitar 60 kilometer di barat daya ibu kota Suriah, Damaskus, dan mencakup wilayah sekitar 1.000 kilometer persegi. Sementara permukiman itu dilaporkan bakal dibangun di dekat Kela di sebelah utara Golan.

Pada Minggu, kabinet menyetujui resolusi Netanyahu untuk membangun komunitas baru di Golan. Namun resolusi tersebut tidak mencapai kata sepakat terkait pembentukan permukiman dengan belum ada dana yang digelonttorkan untuk melakukan pembangunan.

Sementara lawan politik Netanyahu mengungkapkan bahwa secara hukum, tidak ada permukiman yang bisa dibangun sebelum pemilihan digelar September mendatang. Mantan Sekretaris Kabinet Zvi Hauser kepada Times of Israel berkata, siapa pun yang paham rancangannya bakal tahu bahwa peresmian itu hanyalah kebijakan palsu. “Mari berharap Presiden Trump tidak tahu bahwa namanya tengah digunakan dalam latihan hubungan kemasyarakatan ini,” sindir Hauser. (cnn/int)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...