Destinasi Wisata: Butuh Sinergi dan Peran Penta Helix

Oleh: Jamaluddin Jahid (Mahasiswa S3 Kajian Pariwisata Universitas Angers, Perancis & Udayana Bali)

Bersinergi memajukan pariwisata berbasis kearifan lokal adalah tema yang diusung pada pertemuan saudagar Bugis Makassar (PSBM) XIX yang di gelar tanggal 15-16 Juni tahun 2019. Tulisan ini hadir sebagai bentuk apresiasi penyelenggaraan PSBM tahun ini. Fokus apresiasi pada tiga pertanyaan yaitu mengapa pariwisata, siapa saja stakeholders yang bersinergi dan bagaimana peran aktor penta helix.

Mengapa pariwisata? Fakta sejarah menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata senantiasa menyertai peradaban manusia mulai zaman primitif (perjalanan untuk tujuan penyebaran agama dan berperang), zaman pra revolusi industri (Bangsa Sumeria, Phoenesia dan Polynesia untuk tujuan perdagangan), zaman revolusi industri (perjalanan Thomas Cook dan Son Ltd ke Inggris tahun 1840 dan ke Amerika Serikat tahun 1841) dan zaman modern (tujuan kesenangan dan aktualisasi diri) serta post-modern (tujuan pengalaman, pengetahuan dan makna hidup).

Bukti empiris menunjukkan bahwa sektor pariwisata menjadi penghasil devisa utama negara maju dan negara berkembang termasuk Indonesia. Hegemoni pariwisata membuat hampir semua negara khususnya negara berkembang berkompetisi mengembangkan pariwisata, dan bagi negara yang tidak pro sektor pariwisata dicap anti peradaban. Hegemoni pariwisata melalui jargon bahwa pariwisata merupakan paspor dari pembangunan (De Kadt, 1984), pariwisata sebagai quick yielding industry (Yoeti, 2008), pariwisata sebagai penyalur atau channel sumber daya finansial dari negara maju ke negara yang sedang berkembang (Ashley dkk, 2010).

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...