Game Online, Bukan Permainan Biasa

Senin, 17 Juni 2019 - 07:25 WIB

Oleh: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Uin Alauddin Makassar)

JIKA permainan dikatakan hanya untuk bermain-main, bukan untuk sesuatu yang serius dan bersungguh-sungguh, maka patutlah aware terhadap permainan yang berkembang saat ini, game online.

Entah itu PUBG Atau Mobile legend dan kawan-kawannya. sebab jutsru, akibat dari permainannya berefek pada hal-hal yang sangat serius. Kita tidak bisa lupa saat 10 Anak Banyumas alami gangguan mental akibat kecanduan game online, empat remaja Grogol yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Mhary wanita di Manado yang terkena stroke lantaran keranjingan game online, sampai kasus bunuh diri lainnya.

Atau kejadian di berbagai Negara yang juga muncul secara serius. Tewasnya orang dewasa karena kelelahan, memicu tindakan kriminal oleh remaja seperti mencuri uang, rokok, dan tabung gas di toko untuk membayar sewa alat game online, atau saat remaja merampok penjual nasi goreng untuk mendapat uang dan dipakai bermain game (theconversation.com)

Dan yang paling baru, di tanah air kita, Seorang gadis asal Pontianak, berinisial YS (26) Diamankan aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya karena membobol Bank hingga Rp 1,85 miliar. Dana sebanyak itu, digunakannya untuk bermain game online, Mobile Legends (Viva.co.id).
Pelan namun pasti, kecanduan bermain game merambah dengan cepat. Menimbulkan perkara yang serius. Mencuri, membunuh, terserang sakit, hingga tewas kelelahan. Merusak tatanan kehidupan pribadi, sosial hingga pendidikan.

Itulah mengapa WHO menetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental. Mereka menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru International Statistical Classfication of Dieases (ICD) (Kompas.com 19/06/2018)

Tentu saja ini didasari pada pertimbangan akan bahayanya kecanduan game online. Masih dari sumber yang sama, WHO membeberkan telah meneliti prevalensi kecanduan game dengan mengambil sampel di sekolah-sekolah Manado, Medan, Pontianak dan Yogyakarta pada 2012 lalu. Temuannya berbicara bahwa ada 45,3% dari 3.264 siswa sekolah yang bermain game online selama sebulan terakhir dan tidak berniat untuk meninggalkan. Mengerikan bukan?
PR penting orang tua.

Jika sudah begini, hal paling penting adalah membantu mengurangi kecanduan. Namun, semua harus berawal dari pergeseran paradigma orang tuanya terlebih dahulu, yang menjadi peran utama dalam mendidik anak-anak.

Memberikan ruang kebebasan kepada anak untuk bermain game online agar pekerjaan lainnya clear adalah hal keliru. Ingatlah bahwa kecanduan selalu bermula pada percobaan-percobaan kecil yang kemudian berlanjut pada ketagihan. Semakin sering itensitas waktu sang anak dekat dengan game online yang penuh dengan nuansa adiktif, maka semestinya orang tua khawatir. Bagaimana bisa peran menghibur dipercayakan pada game sementara orang tua bisa melakukannya sendiri.

Sebelum kecanduan, bertindaklah. Begitu banyak orang tua kewalahan mendapati buah hatinya hanya hidup di dunia game, bukan ruang sosial. Banyak orang tua yang shock mendapati tagihan berjuta-juta akibat anak-anak membeli item game. Pusing memikirkan masa depan pendidikan yang tak karuan karena tersita bermain game. Inilah kecanduan.

Ketegasan pemerintah
Namun, satu hal penting lainnya adalah, peran pemerintah juga harus maksmimal. Upaya orang tua tak bisa meredam jauh. Perlu ada regulasi hukum yang membantu. Rusaknya pikiran generasi dan motivasi hidupnya karena sebuah permainan virtual ini, harusnya menjadi bom bagi pemerintah. Membuang apinya adalah yang utama.

Bukankah lebih krusial merawat generasi dibanding meraup keuntungan dari bisnis game? Bukankah masih banyak pintu lain untuk mengembangkan talenta remaja tanpa harus melalui permainan game online yang semakin parah ini?
Di Nepal, permainan game PUBG resmi dilarang. Karena memberikan dampak buruk bagi anak-anak dan remaja, bisa membuat kecanduan dan efek buruk pada pemikiran. (Kompas.com 12/04/2019)

“Hal ini berangkat dari keluhan orang tua wali dan organisasi sekolah untuk memblokir permainan itu, karena dampak psikologis pada remaja dan siswa.” Kata pejabat senior poisi Dhiraj Pratap Singh kepada AFP, dilansir dari Straits Times. (CNBCIndonesia.com)

Di sumber yang sama, kabarnya China juga telah mengumumkan aturan baru yang membatasi jumlah game yang dapat dimainkan, dan membatasi penerbitan game baru, serta membatasi umur warga Negara yang boleh bermain game online. Selain itu, Negara bagian Gujarat India dimana tempat puluhan orang ditangkap karena bermain permainan tersebut, PUBG atau game online juga sudah dilarang.

Bagaimana dengan Di Indonesia? Mohon bersabar, masih dikaji. Majelis Ulama Indonesia menyatakan sedang melakukan kajian baik-buruknya game online ini. Namun, siapapun kita, apabila melihat kerusakan, maka cegahlah dengan kapasitasnya masing-masing. Untuk pemerintah, orang tua, guru dan lain-lain mesti mengambil bagian dalam edukasi ini. Semoga tidak terulang lagi kejadian brutal lainnya hanya karena sebuah permainan. (*)