Bangsa Pelupa

0 Komentar

Oleh: Hamdan Juhannis

Kata orang, ciri orang yang sudah mengalami gejala pikun kalau dia mudah lupa sesuatu. Lupa apa yang baru saja diucapkan, lupa apa yang baru saja ditaruh, atau lupa apa yang baru mau disampaikan. Apa Anda memiliki pengalaman seperti itu? Hati-hatilah sedikit! Kalau berdasar dari patokan lupa itu, sesungguhnya menjadi pikun bukan hanya melulu orang yang sudah berusia lanjut.

Prof Idrus, Mantan Rektor Unhas, pernah mencontohkan tingkat kelupaan yang paling parah; seorang pria yang bertemu dengan seorang perempuan di suatu tempat. Lalu pria itu menyapa: ‘sepertinya kita pernah bertemu yah.’ Ternyata yang ditanya itu adalah istrinya. Ini adalah jenis pikun tingkat dewa.
Batasan dari pemahaman awan bahwa lupa itu kondisi psikologis dari seseorang yang mengalami disfungsi daya ingat. (Sekiranya ada Psikolog di group ini, silakan luruskan batasan saya.) Namun menjadi pelupa adalah menurunnya daya ingat, biasanya orang karena sudah tua.

Jadi pelupa itu bukan dosa. Menjadi pelupa itu kodrat, karena pelupa itu bukan pilihan. Kondisi ingatan yang menyebabkan orang menjadi suka lupa. Namun ketika lupa diterjemahkan secara konotatif, bisa merubah menjadi keburukan personal. Misalnya adanya istilah: lupa daratan. Lupa daratan diperuntukkan untuk perilaku seperti biji kacang yang lupa kulitnya. Orang yang lupa daratan, bukan karena pelupa atau tidak ingat lagi bagaimana caranya kembali ke darat setelah berlayar.

Lupa daratan istilah untuk orang yang sudah tercerabut dari nilai yang seharusnya dijunjung, karena faktor adanya status baru yang disandangnya. Dirinya seperti tidak lagi mau menginjak bumi.

Jadi pelupa dalam makna ini adalah bermasalahnya jiwa, bukan ingatan. Inilah yang terjadi sekarang ini, proses kelupaan kolektif. Kita sering sudah lupa kalau kita bangsa ramah. Kita sering lupa kalau kita punya budaya gotong royong. Kita sering lupa kalau bangsa ini dibangun atas dasar keragaman. Kita lupa bahwa agama untuk memudahkan, sementara banyak yang memperlihatkan betapa susahnya hidup dengan beragama. Banyak yang lupa bahwa agama untuk kedamaian, bukan dipakai untuk menghancurkan orang lain.

Kelupaan seperti inilah yang membuat para pendiri bangsa berteriak lantang: Jangan lupakan sejarah! Yah, kita memang sering melupakannya, karena kita terlalu sering menghafal tahun dalam buku sejarah dibanding pesan moral sebuah peristiwa sejarah. Sejarah selalu berulang, kata guru sejarah kita. Masa Anda lupa? (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...