Jokowi Siap Ambil Keputusan Gila, Pengamat: Hampir 5 Tahun Didikte Orang Lain

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago menilai Presiden Joko Widodo alias Jokowi sudah jujur jika hampir lima tahun memimpin, dirinya berada di bawah tekanan.

Hal ini disampaikan Pangi, menanggapi pernyataan Jokowi yang sudah tidak punya beban lagi dalam memimpin negara ini lima tahun ke depan. Sehingga, keputusan gila pun bakal dia ambil demi kemajuan bangsa ini.

VIDEO: Berawal dari Hoby, Bisnis Lukisan Bantal Laris Manis

Pernyataan itu disampaikan Presiden ketujuh RI tersebut saat menghadiri Silaturahmi Halal Bi Halal Aktivis 98 Se-Indonesia, yang diadakan Rembuk Nasional Aktivis 98 (RNA 98), di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (16/6) lalu.

“Saya pikir Jokowi selama ini secara tak langsung beliau sudah jujur, memang didikte dan di bawah tekanan. Ini mungkin waktu yang paling penting bagi Jokowi memimpin Indonesia tanpa tekanan atau di dikte orang lain,” ucap Pangi saat berbincang dengan jpnn.com (Fajar grup), Selasa (18/6).

Bukan Satu, Pimpinan Ponpes Cabuli 9 Santrinya

Karena itu, lanjut direktur eksekutif Voxpol Center ini, bila Jokowi – Ma’ruf Amin sah menjadi presiden dan wakil presiden periode 2019-2024, dalam lima tahun ke depan suami Iriana itu harus lebih berani dan sedikit gila dalam mengambil keputusan yang punya korelasi terhadap kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

“Pemimpin Indonesia memang harus sedikit agak gila, berfikir antimainstream dari kebanyakan pemimpin, tidak di bawah pengaruh dan dikendalikan orang lain. Pemimpin merdeka insyaallah akan membawa kemajuan bagi bangsa,” tutur analis politik asal Sumbar ini.

Diserbu Nelayan Luar, Nelayan Barru Keluhkan Pendapatan Anjlok

Pangi juga memandang, pernyataan Jokowi secara tak langsung menjadi sinyal bahwa dia tidak mudah di dikte lagi. Bila selama ini dia punya beban, sekarang beban tersebut sudah tidak ada lagi. Termasuk dalam memilih menteri, dan menentukan kebijakan strategis demi kepentingan nasional.

“Bisa juga Jokowi yang selama ini di bawah tekanan elite partai, tapi setelah melihat hasil Pilpres partai mungkin dianggap tidak signifikan dalam memenangkan pertarungan kontestasi elektoral,” tandas Pangi. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...