Waspada, Dikabarkan Ada Bakteri Air Minum Kemasan dari Malaysia

Selasa, 18 Juni 2019 - 07:29 WIB

FAJAR.CO.ID–Air minum kemasan bisa jadi solusi, jika ingin mendapatkan air minum yang layak konsumsi tanpa harus merebusnya terlebih dahulu. Hanya saja, tak semua air minum kemasan – termasuk air mineral – aman untuk dikonsumsi. Beredar kabar jika sebuah produk air minum kemasan asal Malaysia bermerek “Starfresh” ditarik peredarannya di Singapura karena dideteksi mengandung bakteri.

Dilansir dari Channelnewsasia.com, bakteri yang terdeteksi oleh Singapore Food Agency (SFA) adalah bakteri pseudomonas aeruginosa. SFA mengatakan, pihak mereka telah mengarahkan importirnya, Radha Exports, untuk menarik kembali semua produk tersebut, termasuk botol air 1,5 liter dengan tanggal kedaluwarsa 13 Mei 2021 dan botol air minum 500ml yang akan kedaluwarsa pada 11 Mei 2021.

Pihak SFA juga menyarankan kepada masyarakat untuk tidak mengonsumsi air tersebut, meski sudah telanjur membelinya. Jika air minum tersebut juga sudah telanjur dikonsumsi, mereka yang khawatir dengan kondisi kesehatannya bisa melakukan pemeriksaan medis di rumah sakit terdekat.

Dikutip dari klikdokter.com, bakteri pseudomonas aeruginosa sendiri dapat ditemukan pada feses, tanah, dan air limbah. Bakteri tersebut adalah bakteri gram negatif, berkapsul, dan memiliki flagella yang membuatnya bisa bergerak.

Sumber penyakit itu pun sangat bisa berkembang biak di lingkungan yang berair dan juga di permukaan bahan organik yang terkena air. Bahkan, bakteri pseudomonas juga banyak ditemukan di rumah sakit.

Dilansir dari sebuah sumber, ada anak asal Jakarta yang berat badannya rendah akibat memiliki bakteri pseudomonas aeruginosa sebanyak 100.000/ml di dalam air kencingnya. Menurut seorang dokter yang merawat anak itu, dia terinfeksi karena sering mengunjungi rumah sakit, ditambah dengan kondisi kekebalan tubuhnya yang kurang baik.

Jika kondisi imunitas tubuh dalam keadaan yang baik, penggunaan atau mengonsumsi produk yang terkontaminasi dengan Pseudomonas aeruginosa dapat menyebabkan berbagai infeksi, tetapi jarang menyebabkan penyakit yang serius.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), jika orang yang punya kekebalan tubuh normal mengonsumsi produk berbakteri tersebut, mereka bisa mengalami ruam-ruam di kulit. Kabar buruknya, bila bakteri ini tertelan oleh orang yang sedang sakit (orang yang imunitas tubuhnya sedang tidak baik), penyakit yang dihasilkan bisa lebih dari sekadar penyakit kulit. (eds)