Gagal Total Urus Pak Ogah

Rabu, 19 Juni 2019 - 07:12 WIB
Salah seorang Pak Ogah yang menguasai persimpangan jalan untuk mencari duit dari pengendara. (IDHAM/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pak Ogah makin bebas berkeliaran di hampir semua ruas jalan di kota Makassar. Dinas Sosial dan Dinas Perhubungan gagal total mengurus perkara yang satu ini.

Apa saya program Dinsos dan Dishub? Terbaru, Dinas Perhubungan Sulsel akan turun bersama tim terpadu untuk menindak Pak Ogah di ruas jalan provinsi dan nasional. Penindakannya tak lagi melibatkan Dinas Sosial.

Mereka akan memanfaatkan tim khusus yang juga terdiri dari unsur Polri dan TNI. Hasil tangkapan Pak Ogah pun akan langsung diserahkan ke kepolisian untuk dibina. Tidak lagi dibawa ke Dinas Sosial Sulsel.

Kepala Seksi LLAJ Dishub Sulsel, Eko Pratono mengatakan, sebelum Ramadan pihaknya sudah dua kali melakukan penindakan Pak Ogah. Padahal, sepengetahuannya itu sudah menjadi tanggung jawab Dinas Sosial (Dissos).

Pihaknya hanya sekadar membantu dalam hal penertiban. Akan tetapi, saat dibawa ke kantor Dinas Sosial, Pak Ogah yang ditangkap langsung dibebaskan. Tak ada upaya pembinaan. Justru para Pak Ogah itu kembali beraktivitas di jalan.

“Makanya pekan ini, paling lambat Kamis kami akan turun menyisir Jalan Uruip Sumoharjo dan Jalan Perintis Kemerdekaan,” janjinya. Ada 39 personel gabungan yang akan turun. Selain Pak Ogah, pihaknya juga akan fokus menertibkan pelanggar lalu lintas.

“Seperti aktivitas parkir atau penyebab masalah kemacetan. Sampai kapan dilakukan? Yang jelas sampai tidak ada masalah lagi di jalanan,” tambahnya.

Nantinya, kata dia, dengan pelibatan unsur TNI dan Polri, pembinaan Pak Ogah akan diserahkan ke kepolisian. “Kalau ada (Pak Ogah) yang diamankan, langsung diserahkan ke kepolisian. Pembinaan akan dilakukan kepolisian. Bukan lagi di Dinas Sosial,” janjinya.

Kepala Dinas Sosial Sulsel, Ilham A Gazaling menampik jika dianggap tak serius menangani Pak Ogah. Saat Ramadan, pihaknya mengamankan 150 Pak Ogah. Hanya saja, ada yang dilepas karena telah melalui serangkaian pembinaan.

“Ada beberapa pertimbangan hingga mereka dilepas. Salah satunya karena desakan ekonomi dan orang tua. Mau tidak mau, kami harus lakukan itu,” tambahnya. (ful/abg)