Meta-Komunikasi Pencopotan Lutfie

Rabu, 19 Juni 2019 - 07:13 WIB
Hasrullah. (dok)

Oleh: Hasrullah

Dalam literatur teori-teori komunikasi, meta-komunikasi adalah suatu pesan yang dihasilkan oleh suatu dramaturgi (pesan peristiwa) yang dimaknai secara berbeda pada khalayak. Prinsipnya, penerima pesan, sangat berbeda interpretasi, sehingga suatu peristiwa, seperti pencopotan Lutfie Natsir bermakna kontroversial yang memunyai makna yang tajam berupa terjadi “penzaliman” dan pembunuhan karakter (character assassination) terhadap pernyataan dari pemimpinnya. Karena Lutfie Natsir dianggap “pengkhianat, duri dalam daging, dan penyebaran berita hoaks”.

Terjadinya pembentukan opini di media dan khalayak bahwa pembunuhan karakter bagi Lutfie Natsir berakibat sebagai berikut. Pertama, reputasi seorang tokoh menjadi rusak di hadapan publik. Nama baik yang bersangkutan dihukum oleh publik. Bisa dibayangkan Lutfie Natsir yang sehari-hari sebagai kepala inspektorat yang ruang lingkup pekerjaan sebagai penegak hukum di lingkungan pemerintahan dicopot dari jabatan karirnya tanpa ada klarifikasi “melalui” proses hukum secara berjenjang serta menurut perundang-undang yang berlaku.

Kedua, meminjam diksi Erving Goffman memopulerkan dramaturgi, munculnya tuduhan bahwa tokoh sekaliber Lutfie Natsir yang selama ini dikenal sebagai sosok yang sabar dan “jujur” serta memunyai integritas ternyata terjadi keresahan auditor. Pimpinan Lutfie, seakan-akan mendramatisir dan mencari pembenaran untuk mencopot bawahannya. Apakah tidak sebaiknya pucuk pimpinan di lingkungan Pemprov Sulsel memanggil yang bersangkutan untuk diminta pertanggungjawaban terhadap kinerja yang dilakukan.

Ketiga, narasi konstruksi yang juga coba dibangun “terdakwa” dengan melakukan pembelaan seperti surat yang dialamatkan Pimpinan Komisi ASN di Jakarta, Lutfie Nasir melakukan rekonstruksi ulang dan pembelaan bahwa: “pemberhentian dirinya dari jabatan menurut hematnya tanpa alasan yang jelas dan mendasar melalui tahapan penyidikan dan investigasi (Lihat surat Lutfie yang di alamatkan Komisi ASN di Jakarta, tertanggal 12 Juni 2019). Artinya, antara tuduhan dan klarifikasi diharapkan opini publik yang sudah terbentuk dapat memperbaiki citra negatif yang telah bergulir dikhalayak.

Keempat, opini publik yang coba dibangun pemimpinnya secara tidak sadar (baca; kurang memahami esensi komunikasi di depan publik) terhadap drama pencopotan Lutfie Nasir menyebabkan diksi yang terlontar dari ucapan seorang pemimpin akan menjadi bumerang.

Akhirnya. Adanya makna multitafsir bersifat meta-komunikasi, maka sepantasnya para pemimpin publik perlu berhati-hati menggunakan diksi pada saat berbicara. Olehnya itu, Pemimpin (komunikator politik, meminjam terminologi Dan Nimmo) perlu berkepala dingin ketika melakukan komunikasi. Jangan sampai terjadi adigum populer: mulutmu adalah harimaumu. Maknanya adalah kalimat atau kata-kata terucap dapat menerkam atau melukai orang lain. Sungguh kurang arif dan bijaksana jika narasi pencopotan Lutfie terjadi demikian. (*)