Perintis Angkatan Laut Asal Galesong Takalar Turut Mewarnai Museum Naval Lantamal VI

Rabu, 19 Juni 2019 - 19:13 WIB
Kolonel Laut (Purn) A Hamzah Tuppu

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kolonel Laut (Purn) A Hamzah Tuppu putra asal Galesong, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulsel bakal mewarnai museum Naval Lantamal VI Makassar. Sebab, dia salah satu pejuang perintis Angkatan Laut Republik Indonesia.

Hamzah Tuppu adalah anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu). Dilahirkan 20 Agustus 1920 di Borongcalla, Desa Bontosunggu, Galesong (sekarang masuk wilayah administratif Kecamatan Galesong Selatan).

Menurut pengakuan anak pertamanya, Haerumi Hamzah Tuppu bahwa, pemangku adat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga adalah keturunan generasi ketujuh dari Syekh Yusuf Tajul Khalwatia Kaddasallahu Sirruhu, A Hamzah Tuppu adalah bagian dari keluarganya.

Dimasa kecil tinggal dan dibina oleh Karaeng Galesong XVI, H Larigau Dg Manginruru. Nama panggilan kesehariannya adalah Cakkua, menggunakan nama salah satu badik milik Syekh Yusuf. ”Badik Cakkua itu masih saya simpan sampai sekarang,” katanya kepada FAJAR, Rabu (19/6/2019).

Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Jasa (Ardin) Sulsel itu menuturkan A Hamzah Tuppu bersama sejumlah pemuda Daisangka – pemuda yang pernah mendapat latihan kemiliteran dari Kaigun -Pemerintahan Militer (Angkatan Laut) Jepang, melakukan pergerakan sejak Juni 1945 di Surabaya, Jawa Timur, untuk membentuk semacam pasukan keamanan bersifat kelautan.

Peristiwa itu tercatat dalam buku Sejarah TNI Angkatan Laut (Periode Perang Kemerdekaan 1945-1950) terbitan Dinas Sejarah TNI AL tahun 2003. Orang-orang Indonesia yang pernah bekerja di Angkatan Laut Jepang maupun sebagai pegawai pelayaran, direkrut masuk menjadi anggota pasukan pengawal keamanan tersebut di Surabaya.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, ternyata model pembetukan pasukan yang dilakukan A.Hamzah Tuppu dan kawan-kawan di Surabaya, menginspirasi dibentuknya pasukan penjaga keamanan dengan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR), sebagaimana diperintahkan langsung oleh Presiden Soekarno dalam pidato radionya pada 23 Agustus 1945.

Pembentukan BKR Laut — selain BKR Darat, dilakukan pada tanggal 10 September 1945 di Jakarta. Kegiatan itu pun lalu diikuti dengan pembentukan BKR Laut di Surabaya yang dipelopori oleh A.Hamzah Tuppu dkk.

Awalnya, BKR – bagian darat dan laut, yang kemudian dibentuk di sejumlah daerah di Indonesia merupakan kekuatan sipil tak bersenjata. Namun kemudian anggota BKR mempersenjatai diri setelah terlibat pertempuran langsung menghalau kedatangan tentara Sekutu yang mulai mendarat di Indonesia, 8 September 1945.

Monumen Perjuangan A Hamzah Tuppu di Galesong Selatan, Kabupaten Takalar Semasa hidupnya, Pemerintah RI pernah memberikan Tanda Jasa dan Penghargaan kepada A.Hamzah Tuppu, berupa Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan Ri, Djuanda, 29 Januari 1958), Bintang Gerilya (dari Presiden RI Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI, Djuanda, 29 Jaunari 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II (dari Menteri pertahanan, Djuanda, 5 Oktober 1959), Piagam Veteran Golongan A (1964).

Dan, secara khusus diberi Piagam Penghargaan sebagai tokoh berjasa dari Pemerintah Kabupaten Takalar, 10 Pebruari 2000. Di saat sejumlah daerah di Sulsel saat ini sedang melirik kembali perjuangan para pejuang yang berjasa di daerahnya terutama pada masa prakemerdekaan, banyak pihak justru berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dapat mengusulkan A.Hamzah Tuppu kepada Pemerintah Pusat sebagai ‘Pahlawan Bahari Nasional’ dari Sulawesi Selatan.

Apalagi A.Hamzah Tuppu memang berasal dari Galesong, Takalar, tempat asal para prajurit dan pelaut tangguh yang banyak berperan memperkuat armada laut pada masa-masa keemasan Kerajaan Gowa sebagai ‘Kerajaan Maritim’ tersohor di Indonesia (abad XV-XVII), setelah Kerajaan Sriwijaya (abad VII) di Sumatera, dan Kerajaan Majapahit (abad XIV) di Jawa. (gun)