Burrito Time

Kamis, 20 Juni 2019 07:08

Oleh Dahlan IskanFAJAR.CO.ID–Sudah seminggu penuh. Tiap hari makan siang saya burrito. Hanya burrito. Bikinan sendiri. Di rumah sahabat saya di pedalaman Kansas, Amerika: John Mohn.Sudah seminggu pula makan pagi saya sama: oatmeal. Empat sendok. Saya taruh di mangkok. Saya tuangkan susu 2 persen lemak.Mangkok itu saya masukkan microwave. Selama 2 menit. Tambah 1 menit lagi. Kalau langsung 3 menit gelembungnya naik. Tumpah.Saya pernah mengotori microwave seperti itu. Membersihkannya repot. Makan malam saya yang agak bervariasi. Kadang John yang masak. Kadang saya.Chris, istri John pagi-pagi sudah berangkat mengajar. Dia dosen bahasa Spanyol di Hays State University. Jam 5 sore baru pulang.Saya juga biasa cuci piring sendiri. Air kerannya joss, tetapi saya tidak boros. Tagihan airnya sebulan 17 dolar. Sekitar Rp 200 ribu.Di situ ada dua jenis keran. Yang satu untuk cuci. Satunya untuk minum.Sebenarnya keran itu cukup satu. Di seluruh Amerika air keran memenuhi syarat untuk diminum. Keran di mana saja: rumah, hotel, bandara, terminal dan tempat rekreasi.Hanya saja John ekstra hati-hati. Ingin menghilangkan kadar garamnya. Ia pasang alat seharga Rp 1,5 juta. Sebagian air keran itu dilewatkan alat itu. Untuk mengucur di kran satunya.Di Amerika rumah tangga tidak hanya bayar air, tetapi juga bayar buang air. Air wastafel, air kamar mandi dan air dari toilet.

Komentar