Kerap Ganggu Emak-emak, Pria Lansia Ditemukan Tergeletak Berceceran Darah

Kamis, 20 Juni 2019 - 12:35 WIB
Ilustrasi/Int

FAJAR.CO.ID,BALIKPAPAN–Tubuh Imung, kakek berusia 70 tahun pada Rabu (19/6) sekira pukul 10.00 Wita tergeletak di pinggir jalan, tak jauh dari Kantor Kelurahan Batu Ampar. Dari kepalanya mengucur darah segar yang berceceran sampai aspal jalan.

Pria lanjut usia (lansia) yang hanya bisa berbahasa Bugis ini tercatat sebagai warga RT 32 Perumnas Batu Ampar, Balikpapan Utara. Sejumlah warga yang melihat sang kakek langsung melarikannya ke Puskesmas Batu Ampar.

Ketua RT 32 Batu Ampar, Supriyadi menjelaskan, awalnya korban membongkar kotak peralatan sol sepatu di kawasan Perumnas. “Ada tukang sol sepatu, kotak kerjanya dibongkar dan dihambur isinya sama Imung. Habis itu dia jalan ke arah kantor kelurahan,” ungkap Supriyadi, kemarin (19/6).

Tak lama berselang, seorang ibu menjerit karena melihat Imung tergeletak di aspal jalan dengan kondisi kepalanya mengeluarkan darah segar. Sejumlah warga berdatangan menolong Imung, namun untuk mengetahui siapa yang menganiaya sulit dilakukan.

“Soalnya dia susah diajak komunikasi, bisanya cuma bahasa daerah (Bugis, Red),” selorohnya dikutip dari prokal.co.

Supriyadi sempat mengajak Imung berkomunikasi. Saat ditanya, kakek yang keseharian jual jasa sebagai penyapu dan bersihkan rumput mengaku kepalanya dipukul pakai balok kayu dua kali. “Tapi dia nggak tahu siapa pelakunya,” imbuh dia.

Saat menjalani perawatan medis, Imung diketahui mengalami luka di bagian kepala belakang sepanjang 5 sentimeter dan dahi kanan sepanjang 3 sentimeter. “Pelakunya tidak tahu siapa, karena tidak ada saksi yang melihat,” tandas Supriyadi.

Menurutnya, Imung dikenal dablek dan sering membuat ulah. Salah satunya mengganggu emak-emak yang melintas. Bahkan, beberapa waktu lalu warga resah dan hendak menghakimi Imung, lantaran melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

“Sempat mau dibunuh orang. Anak kelas 1 SD dikacak susunya. Ada kelainan atau apa kami tidak tahu. Dia ini KTP tidak ada,” ujarnya.

Selaku ketua RT, Supriyadi mengatakan, dirinya sudah melaporkan kejadian tersebut ke polisi serta berkoordinasi dengan kelurahan.

Usai mendapat perawatan di Puskesmas Batu Ampar, Imung kemudian meminta untuk pulang ke rumahnya. Anehnya hingga sore hari si kakek tak terlihat di rumahnya. “Saya takutnya dia pingsan di jalan,” cemas Supriyadi.

Pekerja sosial masyarakat (PSM) Batu Ampar, Suwati mengatakan, Imung merupakan penyandang sosial kategori parah. “Hidup miskin, buta huruf, tak punya KTP Balikpapan. Datang di Balikpapan belasan tahun lalu, sampai dia lupa kampung halaman asalnya (Sulawesi Selatan, Red),” timpalnya.

Imung, sambung Suwati, hidup di gubuk bersama anak perempuan yang usianya 25 tahun namun menyandang disabilitas, bisu, serta keterbelakangan mental. “Tiga tahun lalu anaknya coba bunuh diri dengan cara bakar diri, untung diselamatkan warga sekitar. Rumah gubuknya sudah diperbaiki pakai tripleks,” pungkasnya.

Saat dikonfirmasi Kapolsek Balikpapan Utara, Kompol Supartono Sudin menyebutkan, pihaknya belum menerima laporan resmi soal penganiayaan Imung. Saat didatangi anggota ke lokasi, pihaknya tidak menemukan kasus yang dimaksud. “Tapi kami masih lakukan pengecekan,” pungkas dia. (prokal/eds)