Syawal

0 Komentar

Oleh: Itji Diana Daud

Bulan suci Ramadan, telah berakhir. Saat ini bulan Syawal bermakna “meningkat”. Sepakat kita memahami makna berpuasa sebulan lamanya dan terlahir suci kembali, itu artinya kualitas hidup sebagai manusia seharusnya telah meningkat. Terutama dalam hubungan dengan Allah Swt dan manusia.

Bangsa Indonesia telah terakui sebagai bangsa religius dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bahkan, para pemimpin dan petinggi negara selalu menyampaikan pesan bernuansa keagamaan dan membanggakan agama yang memberi posisi penting pada agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semoga apa yang menjadi realitas yang kita hadapi, tidak bertentangan dengan ekspresi positif tersebut. Kehidupan bangsa saat ini masih hangat dipengaruhi suasana politik pesta demokrasi yang baru lewat.

Pada bulan Puasa, tentu tiap hari mendengar dan membaca dakwah tentang keutamaan dan manfaat ibadah puasa atas raga, mental, serta jiwa. Semoga dakwah yang bagus tersebut, meninggalkan bekas mendalam pada setiap individu. Kefasihan beretorika diikuti tindakan yang sesuai dengan ucapan.

Jika ditelaah lebih jauh, memang harus berhati-hati sebagai orang Islam. Sebab, pengakuan itu tidak cukup sekadar klaim sepihak. Sebab kalau mau mengaku, baik secara perseorangan, kelompok, partai, atau masyarakat, terlebih dahulu harus berpegang pada ahsanun kaulan (tutur kata yang baik) dan amila sholihan (amal saleh).

Dengan memegang kedua hal di atas, kehidupan sudah bisa indah bagi alam dan segala isinya. Apalagi jika ditambah dengan kesadaran bahwa barang siapa pun berbuat baik dan jahat, baik kecil maupun besar, Allah akan melihat. Hidup di bumi Indonesia akan menjadi rahmatan lil’alamin.
Dalam Islam, seseorang itu merupakan pemimpin paling tidak bagi dirinya sendiri. Tidak heran kalau seorang muslim itu selalu dituntut untuk bisa berpikir lebih dewasa dan berakhlak semakin mulia.

Padahal, dalam Islam, makmumlah yang menentukan siapa yang menjadi imamnya. Karena itu, berbanggalah menjadi makmum dan takutlah menjadi imam. Dalam melihat yang bertugas menjadi pemimpin bangsa atau presiden itu bukanlah pribadi manusianya. Namun, cintanya pada rakyat, kecerdasannya dalam memimpin, dan visi serta kemampuan manajemennya.

Selalu gembira dalam menghadapi hidup dan janganlah menginginkan sesuatu di luar batas kemampuan. Misalnya, memaksakan diri untuk ingin cepat kaya atau menduduki jabatan tertentu. Mari setelah lebaran tahun ini, bulan Syawal kita lebih meningkatkan pemahaman nilai-nilai Islam. Selamat Syawalan bagi yang menjalani puasa Syawal. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...