Presiden Minta Zonasi Dievaluasi, IGI: Jokowi Jangan Bikin Pendidikan Jadi Tak Menentu

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Saat menghadiri penyerahan 3.200 sertifikat hak atas tanah di Gresik, Jawa Timur, Kamis (20/6), Presiden Jokowi mengakui sistem zonasi perlu dikaji ulang karena menimbulkan banyak masalah.

Ia juga meminta wartawan menanyakan masalah tersebut langsung kepada Mendikbud. “Memang di lapangan banyak masalah yang perlu dievaluasi,” timpalnya.

Sementara itu, Kemendikbud melakukan revisi kuota penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur prestasi dari sebelumnya lima persen menjadi lima persen hingga 15 persen. “Berdasarkan arahan Presiden maka diputuskan adanya fleksibilitas jalur prestasi atau yang berada di luar zona. Akhirnya kami putuskan dibuat rentangnya dari lima hingga 15 persen untuk jalur prestasi,” terang Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi PhD di Jakarta, kemarin.

Diubahnya rentang untuk jalur prestasi tersebut untuk menampung siswa-siswa yang memiliki prestasi yang ingin sekolah di sekolah yang berada di luar zonanya. Revisi itu dilakukan pada Permendikbud 51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Didik menambahkan revisi tersebut sudah dibawa ke Kemenkumham dan Kemendikbud telah mengirim surat edaran kepada dinas pendidikan di daerah. Harapannya, daerah yang masih bermasalah PPDB bisa menemukan solusi. “Untuk daerah yang PPDB-nya tidak bermasalah, tidak perlu mengikuti revisi ini,” ujar dia.

Didik menambahkan Kemendikbud telah mengumpulkan kepala lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) dari seluruh Indonesia dan diketahui bahwa persoalan PPDB dikarenakan sejumlah orang tua yang tidak puas karena anaknya tidak tertampung di sekolah favorit, padahal memiliki prestasi yang baik.

Menurut Didik, dengan zonasi ini memperluas sekolah favorit sehingga bisa diakses siswa dari semua kalangan. Sekolah favorit bukan karena muridnya yang bagus melainkan proses pembelajaran di sekolah itu sehingga menghasilkan murid yang bagus pula.”Untuk itu semua pihak mendukung kebijakan zonasi ini. Apalagi sekolah publik, tidak membedakan siapapun. Tidak hanya anak pintar, tetapi anak yang rumahnya tidak jauh dari sekolah itu harus bisa ditampung. Jadi tidak ada diskriminasi,” kata Didik.

Penerimaan murid baru 2019 dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu zonasi, prestasi dan jalur perpindahan orangtua.Dalam hal ini, kuota zonasi sudah termasuk peserta didik yang tidak mampu dan penyandang disabilitas di sekolah yang menyelenggarakan layanan inklusif.

Terpisah, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, menilai, perintah Presiden Jokowi kepada mendikbud Muhadjir Effendy agar merevisi Permendikbud 51 tahun 2018 tentang zonasi sekolah kembali menunjukkan sikap tidak tegas dan tidak jelas Presiden Joko Widodo.

Presiden Jokowi harusnya memahami bahwa tujuan mulia sistem zonasi ini adalah menciptakan iklam pendidikan di mana semua sekolah sama baiknya. Sistem ini sudah berjalan selama tiga tahun dan terus mengalami perubahan menuju cita-cita tersebut. “Perintah presiden merevisi justru merupakan sebuah kemunduran terhadap upaya mencapai cita-cita semua sekolah sama baiknya,” katanya, Jumat (21/6/2019).

Ramli Rahim juga menyinggung tentang pernyataan Gubernur Ganjar Pranowo yang tak setuju system zonasi. Menurutnya, keliru jika menganggap bahwa zonasi menghancurkan semangat kompetisi siswa, sebenarnya tidak, yang terjadi justru semangat kompetisi ini akan berubah dari kompetisi antar siswa dalam satu sekolah menjadi kompetisi antar siswa antar sekolah. Kompetisi juga akan terjadi antar kepala sekolah untuk menunjukkan prestasinya, begitu pula dengan gurunya, mereka akan berkompetisi menghasilkan siswa terbaik dengan input yang relatif sama.

“Kami bahkan mengusulkan agar jalur prestasi dihapuskan karena keberadaan jalur prestasi menjadi penghambat upaya menuju ‘semua sekolah sama baiknya’ karena persepsi soal sekolah unggulan masih terus ada. Perintah revisi yang sifatnya  mendadak ini justru menunjukkan bahwa arah pendidikan kita semakin tidak jelas dan tidak punya visi yang terang,” kritiknya. (fin-sam)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...