Respons Moeldoko Dituduh Ajari Saksi TKN Curang

Jumat, 21 Juni 2019 - 07:36 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Ma’ruf, Moeldoko merespons kesaksian Politikus PBB (Partai Bulan Bintang) Hairul Anas soal materi kecurangan saat pelatihan saksi untuk paslon 01.

Saat menjadi saksi yang diajukan tim kuasa hukum Prabowo Subianto – Sandiaga Uno dalam sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (20/6) malam, Hairul menyebut TKN seakan-akan mendorong saksi untuk berbuat curang. Akan tetapi itu dibantah Moeldoko. Selain sebagai kader PBB, Hairul Anas juga disebut-sebut sebagai keponakan Mahfud MD.

Pemilu Diyakini Curang, Parpol Pengusung Jokowi-Ma’ruf Pun Gugat ke Mahkamah Konstitusi

“Konteksnya adalah saya selaku TKN memberikan pembekalan kepada para saksi. Intinya adalah supaya para saksi itu lebih waspada (kecurangan), lebih hati hati melihat situasi,” ucap Moeldoko di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta pada Kamis (20/6).

Moeldoko lantas menceritakan dalam pelatihan tersebut, dia menyampaikan bahwa dalam sebuah demokrasi yang mengedepankan kebebasan, apa saja bisa terjadi termasuk juga kecurangan.

Yusril Sebut Kesaksian Keponakan Mahfud MD Tak Berarti Apa-apa

Untuk itu, dia meminta para saksi bekerja sungguh-sungguh, militan dan jangan sering-sering meninggalkan lokasi pemungutan suara. Bagi saksi yang berkacamata, Moeldoko punya pesan khusus supaya mereka duduk paling depan agar bisa mengamati proses penghitungan suara.

“Itu lah, konteksnya seperti itu. Jadi tidak ada saya mengajarkan mereka untuk berlaku curang. Dalam sebuah demokrasi kecurangan adalah hal yang wajar, itu sebuah pelintiran yang ngawur,” tegas mantan Panglima TNI ini.

Respons Yusril Ihza Mahendra Soal Kader PBB Bela Prabowo di MK

Berikutnya, saksi Hairul sendiri menurutnya sudah mengakui dalam sidang bahwa tidak ada pengajaran dari dirinya kepada para saksi untuk berbuat curang. Moeldoko pun kembali menegaskan jika dirinya tidak pernah mengajarkan untuk berbuat curang.

“Yang saya tekankan adalah bagaimana harus waspada, harus mencermati situasi. Siapa tahu nanti terjadi kecurangan. Itu lah, konteksnya seperti itu. Jadi jangan salah, jangan dibalik-balik,” tandasnya. (jpnn)