Peneliti Urai Keseringan Main Ponsel, Bisa Tumbuh Tanduk?

Senin, 24 Juni 2019 - 09:11 WIB
Dampak buruk penggunaan ponsel bagi tubuh kembali jadi sorotan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dampak buruk penggunaan ponsel bagi tubuh kembali jadi sorotan, setelah adanya klaim keseringan main ponsel bisa menyebabkan tumbuhnya ‘tanduk’ di belakang kepala. Bisakah terjadi?

Lebih dari setahun lalu, dua peneliti Australia membuat heboh dunia setelah menerbitkan penelitian dalam jurnal Scientific Reports mengenai adanya kasus pertumbuhan tanduk di belakang kepala akibat terlalu sering menunduk saat menggunakan ponsel.

Dan baru-baru ini, BBC menyatut penelitian tersebut sembari bernarasi mengenai dampak kehidupan modern terhadap tengkorak kepala.

Pemberitaan tersebut menarik perhatian dunia. Meski laik untuk dibaca, apakah ancaman tumbuh tanduk di kepala benar-benar ada?

Laman Time.com menulis bahwa pada 2016 lalu, profesor David Shahar dan Mark Sayers dari University of the Sunshine Coast menemukan 40 persen dari 218 orang berusia 18 sampai 30 tahun mengalami bertumbuhan tulang yang disebut “tonjolan oksipital eksternal membesar” atau enlarged external occipital protuberance (EEOP).

Hal ini mendorong penelitian yang lebih besar pada 2018, yang dilakukan dengan memindai x-rays 1.200 orang berusia 18 sampai 86 tahun.

Pada studi tersebut, sepertiga dari hasil X-rays memunjukkan pertumbuhan EEOP yang sama dengan rata-rata terjadi pada orang berusia 18 sampai 30 tahun.

Lalu, apakah temuan ini ada kaitannya dengah penggunaan ponsel? Teorinya, keseringan menunduk seperti saat melihat layar ponsel dapat membuat terjadinya kasus pertumbuhan tulang tendon dan ligamen,” kata peneliti.

Namun studi juga tidak secara spesifik menuduh penggunaan telepon sebagai penyebabnya, sehingga peneliti tidak bisa menarik kesimpulan konkret tentang apakah benjolan tersebut disebabkan oleh penggunaan perangkat ponsel.

Tumbuh tanduk di belakang kepala karena keseringan main ponsel bukan sesuatu hal yang serius. (Dok. Jurnal Scientific Reports/David Shahar)

Jadi penggunaan istilah ‘tumbuh tanduk’ menurut Time, adalah hal yang berlebihan.

Lewat studi dikatakan pertumbuhan ‘tanduk’ hanya sebesar 10 sampai 30 millimeter dan terlalu kecil untuk bisa terlihat.

Selain itu kasus pertumbuhan tanduk sebenarnya sudah ada sejak dulu. Namun mereka yang paling sering mengalami adalah orang yang sudah tua, dengan sedikit sekali kejadian pada orang muda.

Lewat sebuah makalah pada tahun 2017 yang diterbitkan BMJ mencatat bahwa pertumbuhan tersebut merupakan hal yang normal, meskipun terkadang cukup menyakitkan dan kerap terjadi pada remaja akhir karena percepatan pertumbuhan.

Bahkan penulis makalah juga merasa tidak terlalu khawatir dengan ‘”tanduk’ meski bisa jadi terkait masalah sakit di kepala, leher dan punggung.

“Masalahnya adalah bahwa benjolan bukan masalah, benjolan adalah pertanda postur mengerikan yang berkelanjutan, yang dapat diperbaiki dengan cukup sederhana,” Sayers mengatakan kepada situs berita Australia.

Jadi, tidak perlu takut yang dengan pemberitaan seputar tanduk yang muncul karena keseringan main ponsel.(sua/jpg)