Narapidana Kerap Rusuh, Dirjen PAS Didesak Mundur

Selasa, 25 Juni 2019 - 12:37 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Maraknya aksi pembakaran rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) yang dilakukan para narapidana (napi), ditengarai disebabkan buruknya koordinasi. Pengawasan yang kurang tegas acapkali diduga sebagai biang kericuhan.

Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardian menilai, terjadinya peristiwa pembakaran rutan dan lapas yang selama ini terjadi, dikarenakan kurangnya pengawasan dan rendahnya keamanan. Akibatnya, sering muncul napi yang merasa sebagai jagoan di rutan maupun lapas.

“Karena jagoannya itu, mereka bisa mengerahkan massa untuk membuat kericuhan sehingga muncul pembakaran,” kata Trubus dalam keterangannya, Selasa (25/6).

Anggota Komisi III: Kanwil Kemenkumham Sulsel Berkelas dan Mantap

Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) diminta segara melakukan pembenahan di jajaran lapas. Salah satu caranya, dengan mengganti Direktur Keamanan dan Ketertiban (Dirtatib) hingga Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas).

“Bila hulunya dibenahi, hilirnya pasti akan baik. Tak ada lagi kericuhan yang menyebabkan pembakaran rutan maupun lapas,” ucapnya

Trubus menambahkan, munculnya persoalan tersebut juga disebabkan akibat buruknya koordinasi dengan pihak kepolisan maupun TNI. Sehingga, kericuhan yang seharusnya bisa dengan mudah dicegah, namun akhirnya pecah akibat kurangnya koordinasi.

“Yang saya tangkap, selama ini dari pihak lapas maupun rutan, biasanya mencoba menyelesaikan sendiri. Kalau tak bisa, baru mereka meminta bantuan,” ungkapnya.

Tawuran Pakai Sikat Gigi, 55 Narapidana Tewas di Penjara

Agar kasus itu tak kembali terulang dan menyebar ke beberapa wilayah, Trubus menyarankan segera dilakukan pembenahan. Bukan hanya Kalapas maupun Karutan yang selalu dijadikan kambing hitam, namun pembenahan menyeluruh harus diambil.

“Pucuk tertinggi yang seharusnya mengambil sikap atas gagalnya masalah ini, seperti Dirjen PAS, Sri Puguh Utami maupun Lilik Sujandi selaku Direktur Keamanan Lapas Rutan seluruh Indonesia sebaiknya mengundurkan diri bila memang sudah tak mampu,” tegasnya.

Persoalan dalam pembinaan pegawai lapas, sambung Trubus, juga selama ini lebih bersifat seremonial dan hanya sekedar rutinitas. Yang paling menonjol adalah jarangnya dilakukan mutasi di tubuh pegawai.

Sabu-sabu 3 Kg Tangkapan BNNP, Kuat Dugaan Ada Peran Narapidana

“Memang mengacu dari peraturan yang ada, programnya setiap dua tahun sekali di mutasi, tapi nyatanya tidak. Mereka bisa bertahan di satu tempat dalam waktu lama,” tukasnya.

Teranyar, kasus kebakaran terjadi di Rutan Klas II B, Sigli, Aceh. Akibatnya tujuh orang sempat melarikan diri dari peristiwa tersebut.

Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Senin, 3 Juni 2019, sekitar pukul 12.00 WIB. Peristiwa itu diduga berawal dari kesalahpahaman antara warga binaan dan seorang petugas. Mereka kemudian cekcok yang berujung pada pembakaran dan kerusuhan. (jp)